JURNALMALUKU—Kongres Persatuan Gerakan Mahasiswa Maluku Barat Daya (GEMA MBD) resmi dibuka pada Sabtu (29/11/2025) di Aula Lantai 5 Kantor DPRD Provinsi Maluku. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa asal Kabupaten Maluku Barat Daya yang sedang menempuh pendidikan di Kota Ambon untuk kembali menyatukan langkah, memperkuat organisasi, serta menetapkan arah gerakan ke depan.
Ketua Tim Koordinator Kongres, Jesrinto M. Kay, dalam laporan pertanggungjawabannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan kongres berangkat dari semangat Kalwedo yang selama ini menjadi identitas budaya sekaligus pengikat persaudaraan masyarakat Maluku Barat Daya.

Ia menjelaskan bahwa GEMA MBD-Ambon merupakan wadah resmi mahasiswa asal MBD yang berdomisili di Kota Ambon, sehingga penyelenggaraan kongres menjadi penting dalam rangka memperkuat organisasi sekaligus mengkaji isu-isu aktual terkait sosial, budaya, ekonomi, hingga ekologi kemasyarakatan.
Jesrinto menegaskan bahwa perkembangan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 hingga Society 5.0 menuntut mahasiswa MBD untuk bergerak lebih terstruktur, rasional, dan memiliki kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Karena itu, kongres kali ini diselenggarakan untuk memilih kepengurusan baru serta menyusun gagasan-gagasan strategis bagi masa depan organisasi.
Kegiatan ini mengusung tema “Mengokohkan Eksistensi Anak Adat Kalwedo dalam Mengakselerasi Perubahan di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.” Kongres dihadiri oleh lima paguyuban aktif yang masing-masing mengutus lima perwakilan.
Dari aspek pendanaan, laporan mencatat total pemasukan sebesar Rp2.800.000, yang seluruhnya digunakan untuk pelaksanaan kegiatan dengan total pengeluaran Rp2.800.000, sehingga saldo akhir nihil.
Jesrinto juga mengakui bahwa proses persiapan tidak berjalan tanpa tantangan, terutama terkait kurangnya respons dari sebagian anggota. Meski demikian, ia menyampaikan terima kasih kepada pembina, senior, serta seluruh pihak yang mendukung hingga kegiatan ini dapat terlaksana.
“Pengalaman ini menjadi motivasi bagi kami agar pelaksanaan kegiatan ke depan bisa lebih baik demi pengembangan diri serta pengabdian kepada daerah,” tutupnya.

Dalam sambutannya, Pembina GEMA MBD, Charles Berbiru, menegaskan kembali posisi organisasi tersebut sebagai satu-satunya wadah resmi dan rumah besar bagi seluruh mahasiswa Maluku Barat Daya di Kota Ambon.
“Beta ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang punya inisiatif untuk menata ulang GEMA MBD. Permasalahan di MBD banyak sekali, dan semua itu membutuhkan kawalan serius dari mahasiswa,” ujarnya.
Berbiru turut mengingatkan pentingnya menjaga soliditas internal. Ia menyinggung pengalaman masa lalu ketika organisasi sempat terpecah menjadi dua versi. Kondisi tersebut, tegasnya, tidak boleh terulang.
“Jangan seperti dulu. Beta harap itu tidak akan terulang. Tidak boleh ada lagi GEMA MBD dua versi,” katanya.
Ia menekankan bahwa ketua terpilih harus mampu merangkul seluruh paguyuban mahasiswa MBD — baik yang sudah bergabung maupun yang belum.
“Rumah besar, rumah pertama, dan tempat berhimpun mahasiswa MBD di Kota Ambon adalah GEMA MBD, bukan yang lain,” tegasnya.
Pembukaan kongres ini menjadi tonggak baru bagi mahasiswa Maluku Barat Daya untuk mengembalikan marwah organisasi, memperkuat peran mereka dalam mengawal pembangunan daerah, serta memperjuangkan aspirasi masyarakat MBD di berbagai sektor.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan agenda utama kongres, yakni pembahasan tata organisasi, sidang-sidang komisi, hingga pemilihan pengurus definitif yang akan menahkodai GEMA MBD-Ambon dalam periode mendatang. (JM–AL).

