Anak Muda dan Regenerasi Kepemimpinan Desa Kotalama

Adm3
Adm3

JURNALMALUKU — Kontestasi pemilihan Kepala Desa Kotalama, Kecamatan Kisar Selatan, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), membuka ruang bagi pembahasan regenerasi kepemimpinan di tingkat desa. Dari tiga bakal calon yang telah menyerahkan berkas pendaftaran, Stevy Mario Gabriel, pemuda berusia 25 tahun dari Soa Kotwarak/Waraktoro, menjadi salah satu sosok yang menarik perhatian karena keterlibatannya dalam proses menuju kepemimpinan desa.

Sejak 2023, Desa Kotalama tidak lagi memiliki kepala desa definitif setelah kepala desa sebelumnya mengakhiri masa jabatan. Kekosongan tersebut kemudian diisi oleh penjabat kepala desa. Setelah beberapa tahun pemerintahan dijalankan oleh penjabat, tahapan pemilihan kini mulai berjalan untuk menentukan pemimpin definitif melalui mekanisme yang berlaku.

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kotalama telah membentuk panitia pemilihan kepala desa. Dalam perkembangannya, tiga nama resmi telah menyerahkan berkas pendaftaran sebagai bakal calon, yakni Wellem Andri Mamonsary, Jems Maxsterlich Lerrick, dan Stevy Mario Gabriel.

Penjabat Kepala Desa Kotalama, Jacobis W. Bakker, membenarkan bahwa tahapan pemilihan telah berjalan. Ia menjelaskan, berkas ketiga bakal calon telah diterima panitia dan akan diperiksa sebelum diteruskan kepada instansi yang berwenang.

“Berkas ketiga bakal calon telah masuk ke meja panitia dan selanjutnya akan dilakukan verifikasi kelengkapan administrasi di tingkat desa. Selanjutnya, berkas ini akan dikirimkan kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Tiakur untuk diverifikasi lanjutan,” terang Jacobis W. Bakker.

Di antara ketiga nama tersebut, keikutsertaan Stevy Mario Gabriel menjadi perhatian karena usianya yang masih 25 tahun. Ia berasal dari Soa Kotwarak/Waraktoro, lingkungan masyarakat yang juga memiliki tokoh-tokoh senior dengan pengalaman dan pengaruh adat.

Kehadiran Stevy membawa isu regenerasi ke dalam dinamika pemilihan Kepala Desa Kotalama. Persoalannya bukan semata-mata tentang perbedaan usia, melainkan juga mengenai kesempatan bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam pemerintahan, menyampaikan gagasan, dan mengabdi kepada masyarakat.

Dalam kehidupan desa, kepemimpinan tidak terlepas dari pengalaman, nilai adat, dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, keterlibatan anak muda menjadi bagian dari proses yang dapat mempertemukan pengalaman generasi senior dengan gagasan generasi berikutnya. Namun, kesempatan tersebut juga perlu diikuti kesiapan memikul tanggung jawab serta kemampuan memahami kebutuhan masyarakat.

Dukungan terhadap langkah Stevy disampaikan Kepala Soa Kotwarak/Waraktoro, Wellem Bakker. Saat dikonfirmasi media ini pada Jumat (16/10/2026), Wellem mengatakan bahwa pihaknya telah mengadakan rapat bersama matarumah dan Saniri untuk membicarakan dukungan kepada pemuda tersebut.

“Kami di dalam soa telah melakukan rapat antara semua matarumah dan Saniri. Semua pihak telah bersepakat ada di belakang Steven dan mendukung penuh anak kami ini,” tutur Wellem.

Menurut Wellem, sudah saatnya anak muda yang memiliki dedikasi dan loyalitas terhadap negeri diberikan kesempatan untuk mengabdi serta membangun Desa Kotalama. Ia menyampaikan dukungan tersebut sebagai bentuk kepercayaan dari lingkungan soa terhadap keterlibatan generasi muda dalam kontestasi kepemimpinan desa.

Pernyataan Wellem memperlihatkan adanya dukungan dari unsur adat di lingkungan Soa Kotwarak/Waraktoro terhadap langkah Stevy. Meski demikian, dukungan tersebut tidak dapat serta-merta dianggap mewakili seluruh masyarakat Kotalama. Penentuan pemimpin desa tetap harus berlangsung melalui tahapan pemilihan yang berlaku dan berdasarkan mekanisme yang ditetapkan.

Bagi Stevy, pendaftaran sebagai bakal calon merupakan langkah awal dalam proses menuju kepemimpinan. Usianya yang relatif muda menjadi bagian dari cerita tentang regenerasi, tetapi kesiapan memimpin juga berkaitan dengan integritas, kapasitas, pemahaman terhadap persoalan desa, serta kemampuan merangkul masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

Sementara itu, bagi masyarakat Kotalama, pemilihan kepala desa menjadi momentum untuk menentukan arah pemerintahan dan pembangunan ke depan. Setelah beberapa tahun dipimpin penjabat, kehadiran tiga bakal calon menghadirkan kesempatan bagi warga untuk mencermati calon pemimpin berdasarkan rekam jejak, komitmen pengabdian, dan gagasan yang mereka tawarkan.

Pada akhirnya, regenerasi kepemimpinan bukan sekadar memberikan tempat kepada generasi muda, melainkan membuka kesempatan agar mereka dapat menunjukkan kapasitas dan tanggung jawab dalam proses yang demokratis. Keikutsertaan Stevy Mario Gabriel pada usia 25 tahun menghadirkan isu tersebut dalam pemilihan Kepala Desa Kotalama, ketika kesempatan mengabdi, pengalaman, dan kepercayaan masyarakat bertemu dalam proses menentukan pemimpin berikutnya. (JM-EA).

Sebarkan artikel ini
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan gunakan tombol share untuk membagi berita.