JURNALMALUKU – Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, Juliana Ch. Ratuanak, melakukan kunjungan ke lahan pertanian sayur milik salah satu warga yang terletak di Kompleks Gunung Nona, Saumlaki, Jumat (4/4/2025).
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Daerah dalam mendorong program swasembada pangan dan kemandirian masyarakat melalui pertanian lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati tampak kagum dengan hasil kerja keras Bapak Dani yang berhasil mengolah lahan berhutan menjadi kebun sayur yang produktif. Tidak tanggung-tanggung, dalam waktu satu bulan sejak dibuka, lahan tersebut telah menghasilkan empat kali panen dengan total pendapatan sekitar Rp.8 juta.
“Ini luar biasa. Saya lihat ada timun, kacang panjang, dan sayur-sayur sehat lainnya. Dalam satu bulan bisa panen empat kali dan tiap panen hasilkan Rp2 juta. Ini bukti bahwa dengan kerja keras dan kreativitas, semuanya bisa dicapai,” ujar Ratuanak dengan penuh antusias.
Dirinya juga menegaskan, bahwa program swasembada pangan akan menjadi fokus utama pemerintah daerah ke depan. Menurutnya, dengan potensi alam Tanimbar yang begitu luas, masyarakat memiliki peluang besar untuk mandiri dalam penyediaan bahan pangan, khususnya sayuran.
“Swasembada pangan bukan hanya soal produksi beras, tapi juga sayur-mayur yang sehat dan bergizi. Kita ingin anak-anak kita makan sayur agar tubuh mereka sehat dan kuat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wakil Bupati mengapresiasi kreativitas Bapak Dani yang mampu memanfaatkan lahan tidak produktif dengan ide dan kerja nyata.
Dirinya menekankan, bahwa kreativitas bukan hanya ada dalam pikiran, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Masa negeri seberang saja bisa prihatin, kita di sini tidak bisa manfaatkan tanah kita sendiri? Kreatif itu bukan hanya di kepala, tapi harus gerak tangan, mulut, dan kaki,” tambahnya sambil tersenyum.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Bupati juga merasa bersyukur atas bantuan bibit yang Ia berikan. Bantuan ini disalurkan kembali kepada warga secara cuma-cuma sebagai bentuk dukungan kepada para petani lokal.
Ratuanak pun mengajak seluruh masyarakat Tanimbar untuk bangkit dan memanfaatkan lahan-lahan tidur yang masih luas. Bahkan membuka ruang komunikasi langsung dengan masyarakat yang ingin bertani.
“Kalau ada yang rajin, datang ke saya. Saya siap bantu, tapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata, seperti membuat bedeng, atau mencoba sistem hidroponik. Jangan kalah dengan orang luar yang justru peduli dengan kita,” pungkasnya.
Kunjungan ini menjadi semangat baru bagi masyarakat Tanimbar untuk mengembangkan potensi pertanian lokal sebagai bagian dari gerakan swasembada pangan yang berkelanjutan.(JM.ES).