JURNALMALUKU – Konflik yang terjadi antara warga Negeri Tial dan Tulehu, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, pada Selasa (1/4/2025) lalu, terus mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Maluku, Faisal Hayoto, secara tegas meminta agar penegakan hukum segera dilaksanakan untuk memastikan situasi tidak berlanjut.
Hayoto juga menekankan, pentingnya dialog dan kolaborasi antara pihak adat, tokoh masyarakat, serta pemerintah untuk mencari solusi damai.
Faisal Hayoto, yang juga merupakan anak adat dari Negeri Laimu mengungkapkan bahwa konflik yang melibatkan dua negeri tersebut harus diselesaikan dengan pendekatan yang bijaksana dan melibatkan semua unsur adat. Sebagai seorang pemuda dan bagian dari anak adat, kami menyarankan agar ketua Silatupatih segera mengundang raja-raja dari tujuh negeri untuk duduk bersama dalam sebuah musyawarah untuk mencari solusi terbaik menuju perdamaian.
“Sebagai anak adat, saya merasa penting bagi kita semua untuk menghentikan ketegangan ini. Kami ingin agar semua pihak, khususnya pemimpin adat, dapat duduk bersama untuk mencari jalan keluar yang menguntungkan semua pihak. Tidak hanya pihak keamanan, tetapi juga elemen adat dan masyarakat harus ikut terlibat dalam penyelesaian ini,” ujarnya kepada media ini, Kamis (3/4/2025).
Hayoto yang akrab disapa Echal ini menjelaskan, bahwa akar masalah yang menyebabkan perselisihan ini harus dipahami lebih dalam, dan setiap keputusan yang diambil harus mengedepankan prinsip keadilan serta menjaga keharmonisan antarwarga. Menurutnya, penting untuk mengedepankan semangat kekeluargaan dan persaudaraan yang selama ini telah terjalin di antara kedua negeri tersebut.
“Kami tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Harapan kami, ketua Silatupatih segera memfasilitasi pertemuan antara raja-raja tujuh negeri. Dengan duduk bersama, kita bisa mendiskusikan solusi damai tanpa ada pihak yang merasa dirugikan,” tambahnya.
Dirinya menekankan, bahwa dialog bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga langkah strategis untuk menjaga kedamaian dalam jangka panjang. Dia berharap agar masyarakat Maluku bisa kembali merajut persaudaraan dengan saling memahami dan menghargai satu sama lain, sebagaimana telah menjadi ciri khas mereka selama ini.
“Konflik ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat Maluku tentang betapa pentingnya peran tokoh adat, pemuda, serta pemerintah dalam menyelesaikan masalah sosial yang berpotensi memecah belah. Semoga langkah-langkah yang diambil dalam menyelesaikan konflik ini bisa memperkuat persatuan dan memberikan contoh baik bagi daerah lainnya dalam menghadapi permasalahan serupa,”tutup Echal. (JM.ES).