JURNALMALUKU – Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXXV Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon resmi digelar pada 11–15 Januari 2026, berlangsung di Jemaat GPM Nusaniwe Airlouw.
Kegiatan ini menjadi forum tertinggi pengambilan keputusan di tingkat cabang sekaligus momentum evaluasi, regenerasi kepemimpinan, dan perumusan arah gerak organisasi ke depan.
Ketua Panitia Konfercab XXXV GMKI Cabang Ambon, Kunrat Salawane, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya konferensi tersebut. Ia menegaskan bahwa Konfercab dilaksanakan berlandaskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GMKI sebagai forum tertinggi di tingkat cabang.
“Konfercab ini bertujuan untuk mengevaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus cabang periode 2023–2025, menyusun dan menetapkan GBPKUO periode selanjutnya, memilih Ketua dan Sekretaris GMKI Cabang Ambon yang baru, serta memperkuat konsolidasi dan semangat persekutuan kader,” ujar Kunrat.
Ia menjelaskan, Konfercab XXXV melibatkan seluruh komisariat GMKI Cabang Ambon, dihadiri senior GMKI serta para undangan. Panitia dibentuk melalui Surat Keputusan Badan Pengurus Cabang Nomor 340301/SC/INT/K/AMB/VII/2025 dan bekerja secara kolektif-kolegial. Pembiayaan kegiatan bersumber dari pencarian dana bazar, bantuan Pemerintah Provinsi Maluku, Ketua DPRD Kota Ambon, serta para senior GMKI Cabang Ambon.
“Atas nama panitia, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung, baik tenaga, pikiran, waktu, maupun dana. Kami menyadari masih terdapat kekurangan dan mohon maaf. Kiranya Konfercab ini menghasilkan keputusan yang membawa GMKI Cabang Ambon semakin setia melayani gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat,” tutupnya.
Ketua GMKI Cabang Ambon periode 2023–2025, Apriansa Atapary, menyebut Konfercab sebagai momentum sakral yang tidak sekadar menjadi pesta organisasi, melainkan ruang refleksi atas aturan organisasi dan penyesuaian dengan perubahan zaman.
“Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. GMKI sebagai gerakan pemikir harus terus mentransformasikan diri secara kelembagaan dengan tetap berakar pada tradisi dan terbuka terhadap perubahan,” tegasnya.
Ia menyoroti pentingnya penguatan GMKI di tiga medan layan, yakni gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat. Di medan gereja, GMKI perlu menjaga relasi yang intim dan adaptif dengan gereja. Di perguruan tinggi, ia mengakui perlunya menghidupkan kembali nilai intelektualitas kader melalui kerja-kerja riset. Sementara di medan masyarakat, GMKI dihadapkan pada berbagai persoalan seperti kemiskinan, kesehatan, konflik agraria, kemaritiman, korupsi, dan pluralisme.
“Revolusi organisasi harus dimulai tanpa meninggalkan nilai pergerakan itu sendiri. Kepemimpinan GMKI ke depan harus berlandaskan kasih dan kolaborasi,” ujarnya.
Apriansa juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua Majelis Jemaat GPM Airlouw, perangkat dusun, angkatan muda, serta seluruh jemaat yang telah menerima GMKI Cabang Ambon. “Airlouw akan tercatat dalam sejarah kader GMKI Cabang Ambon,” katanya.
Ketua Umum GMKI, Prima Surbakti, dalam sambutannya sekaligus membuka secara resmi Konfercab XXXV GMKI Cabang Ambon, menekankan pentingnya menjaga keutuhan organisasi.
“Apapun permasalahan yang ada, kita harus bersatu menyelesaikannya demi pengabdian di tiga medan gumul GMKI: gereja, kampus, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia mendorong GMKI Cabang Ambon untuk mempersiapkan kader-kader unggul dan berkualitas, berani menyuarakan kebenaran, termasuk melalui media sosial. Menurutnya, konflik tidak akan terjadi jika kader konsisten mempertahankan kebenaran.
“Kita harus fokus pada program-program ke depan yang berdampak. Tidak perlu banyak program, asalkan bermanfaat bagi kader,” tegasnya. Ia berharap GMKI Cabang Ambon dapat menjadi contoh bagi cabang-cabang lain di Indonesia Timur dan berdampak nyata bagi gereja.
Menutup sambutannya, Prima Surbakti berpesan, “Jangan pernah lelah mencintai GMKI.”
Dengan dibukanya Konfercab XXXV ini, GMKI Cabang Ambon diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan baru serta keputusan strategis yang memperkuat peran organisasi di tengah gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat. (JM.AL).

