JURNALMALUKU—Gerakan Mahasiswa Maluku Barat Daya (GEMA-MBD) Ambon resmi melaksanakan Pelantikan dan Rapat Kerja Kepengurusan Periode 2025–2027 yang berlangsung di Aula Lantai V DPRD Provinsi Maluku, Sabtu (13/12/2025). Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam menghidupkan kembali peran organisasi mahasiswa daerah sebagai wadah perjuangan intelektual, konsolidasi gagasan, serta pengabdian nyata bagi masyarakat dan pembangunan Maluku Barat Daya.
Pelantikan dan rapat kerja tersebut mengusung tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Perjuangan serta Rekonstruksi Gerakan dalam Konteks Pembangunan Maluku Barat Daya”, yang menegaskan komitmen GEMA-MBD Ambon untuk mengembalikan ruh perjuangan mahasiswa yang berlandaskan idealisme, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Tema ini juga menjadi pijakan dalam merumuskan agenda strategis organisasi agar mampu merespons tantangan akademik, sosial, dan pembangunan daerah secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Dalam agenda pelantikan, Krisandy Petrik Laurika secara resmi dilantik sebagai Ketua Umum GEMA-MBD Ambon, dengan Meri Marina Awirana sebagai Sekretaris dan Mien Audina Dahlan sebagai Bendahara. Kepengurusan baru ini diharapkan mampu membangun organisasi yang lebih progresif, disiplin, dan berorientasi pada kerja nyata, sekaligus mengonsolidasikan kembali potensi mahasiswa Maluku Barat Daya di Kota Ambon.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Pembina GEMA-MBD, Jacobus Moshe, yang memberikan penekanan kuat pada substansi perjuangan organisasi. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa pelantikan dan rapat kerja bukan sekadar pergantian struktur kepengurusan, melainkan momentum reflektif untuk menghidupkan kembali nilai-nilai dasar gerakan mahasiswa yang selama ini menjadi kekuatan perubahan sosial.
Ia mengingatkan bahwa sejarah GEMA-MBD tidak dapat dilepaskan dari kontribusi nyata mahasiswa dalam memperjuangkan akses pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Maluku Barat Daya. Menurutnya, lahirnya akademisi, pendidik, dan figur-figur intelektual asal Maluku Barat Daya merupakan buah dari konsistensi gerakan mahasiswa yang terorganisir, disiplin, dan berorientasi pada tujuan jangka panjang.

Dalam konteks rapat kerja, Jacobus Moshe mendorong agar seluruh program yang dirumuskan benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa, khususnya dalam hal pendampingan akademik, percepatan studi, serta pembentukan karakter dan integritas. Ia juga menekankan pentingnya rekonstruksi gerakan melalui evaluasi kritis terhadap budaya individualistik, lemahnya disiplin organisasi, serta minimnya kesinambungan kaderisasi. “Gerakan mahasiswa hanya akan kuat apabila dibangun secara kolektif, solid, dan berangkat dari kesadaran bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum GEMA-MBD Ambon, Krisandy Petrik Laurika, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelantikan dan rapat kerja ini merupakan momen bersejarah bagi organisasi, mengingat GEMA-MBD sempat mengalami kevakuman selama kurang lebih delapan tahun. Ia menyebut kebangkitan kembali organisasi sebagai bentuk tanggung jawab generasi muda Maluku Barat Daya dalam menjaga dan melanjutkan estafet perjuangan mahasiswa.

Ia menekankan bahwa organisasi mahasiswa harus ditempatkan sebagai ruang belajar kolektif, tempat penguatan intelektualitas, serta sarana perjuangan yang mampu menyuarakan kepentingan masyarakat secara kritis dan bermartabat. Menurutnya, rapat kerja menjadi fondasi penting untuk menyusun agenda organisasi yang tidak hanya reaktif, tetapi memiliki arah, indikator capaian, dan dampak nyata.
“Kami ingin GEMA-MBD hadir sebagai jembatan aspirasi masyarakat Maluku Barat Daya, sekaligus mitra kritis pemerintah dalam mengawal kebijakan publik agar berpihak pada keadilan sosial,” ujarnya. Ia juga berharap dukungan dari pembina, senior, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat agar program kerja yang dirumuskan dapat dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.
Agenda kegiatan semakin diperkaya dengan sambutan dan refleksi dari Senior Ampy Imasuli, yang memberikan motivasi sekaligus penguatan nilai ideologis organisasi. Ia mengapresiasi keberanian dan komitmen pengurus terpilih dalam menghidupkan kembali GEMA-MBD, serta menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai kaum intelektual yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kondisi sosial masyarakat.

Dalam penyampaiannya, ia mendorong agar GEMA-MBD Ambon membangun budaya diskusi yang sehat, terbuka, dan demokratis, serta mendokumentasikan gagasan dan pengalaman perjuangan lintas generasi sebagai bagian dari penguatan memori kolektif organisasi. Ia juga menekankan bahwa setiap program kerja harus berangkat dari kepentingan bersama, bukan kepentingan personal atau kelompok tertentu.
“Perjuangan mahasiswa tidak pernah berhenti selama masih ada ketimpangan dan ketidakadilan. Karena itu, konsistensi, etika organisasi, dan semangat pengabdian harus terus dijaga,” tegasnya.
Melalui Pelantikan dan Rapat Kerja Kepengurusan Periode 2025–2027 ini, GEMA-MBD Ambon menegaskan komitmennya untuk menjadikan organisasi sebagai ruang kaderisasi, penguatan intelektual, dan gerakan sosial yang berdampak. Dengan semangat revitalisasi nilai perjuangan dan rekonstruksi gerakan, GEMA-MBD diharapkan mampu melahirkan generasi mahasiswa Maluku Barat Daya yang kritis, berintegritas, serta siap berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah dan bangsa. (JM–AL).

