JURNALMALUKU—Anggota DPRD Provinsi Maluku Daerah Pemilihan (Dapil) VII Maluku Barat Daya (MBD) dan Kepulauan Tanimbar (KKT), Yan Zamora Noach, menyampaikan apresiasi sekaligus harapan besar kepada pengurus Gerakan Mahasiswa Maluku Barat Daya (GEMA-MBD) periode 2025–2027 yang baru saja dilantik. Pernyataan tersebut disampaikannya saat diwawancarai media ini usai menghadiri Pelantikan dan Rapat Kerja GEMA-MBD yang berlangsung di Aula Lantai 5 Gedung DPRD Provinsi Maluku.
Sebagai anak asli daerah Maluku Barat Daya, Yan Noach menegaskan bahwa kehadirannya dalam kegiatan tersebut bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, melainkan wujud nyata dukungan terhadap eksistensi dan peran strategis gerakan mahasiswa MBD di Kota Ambon. Ia secara pribadi mengucapkan selamat kepada seluruh jajaran pengurus yang baru dilantik, seraya berharap GEMA-MBD dapat terus menjadi wadah perjuangan intelektual dan sosial bagi mahasiswa asal Maluku Barat Daya.
Dalam pernyataannya, Noach menekankan pentingnya menjaga independensi organisasi mahasiswa. Menurutnya, GEMA-MBD harus berdiri tegak sebagai organisasi yang bebas dari kepentingan pihak mana pun dan tidak mudah ditunggangi oleh agenda politik tertentu. Ia mengingatkan bahwa kekuatan utama gerakan mahasiswa terletak pada ketulusan, idealisme, serta keberpihakan pada kepentingan bersama, baik kepentingan internal mahasiswa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia maupun kepentingan masyarakat luas di Maluku Barat Daya.
Lebih lanjut, Noach juga mendorong agar mahasiswa MBD memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap kondisi masyarakat di daerah asal. Salah satu persoalan mendasar yang disorotinya adalah masalah kemiskinan yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di Maluku Barat Daya. Menurut Noach, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara mahasiswa, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Mahasiswa harus hadir sebagai agen perubahan yang mampu membaca realitas sosial masyarakat. Persoalan kemiskinan di MBD harus menjadi perhatian bersama dan diperjuangkan secara kolektif,” ujarnya.
Selain isu sosial, ia juga menekankan peran strategis mahasiswa dalam mengawal proses pembangunan di Maluku Barat Daya. Noach berharap GEMA-MBD dapat berperan aktif dalam memastikan setiap kebijakan dan keputusan pembangunan benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat, bukan sekadar kepentingan segelintir pihak. Fungsi kontrol sosial yang dimiliki mahasiswa dinilainya sangat penting untuk menjaga arah pembangunan agar tetap berjalan sesuai kebutuhan riil masyarakat.
Persoalan transportasi laut turut menjadi sorotan serius dalam pernyataannya. Ia mengungkapkan bahwa mahalnya harga tiket, pelayanan transportasi laut yang belum maksimal, serta masih banyaknya pelabuhan yang belum terjangkau sarana transportasi laut merupakan masalah klasik yang terus dirasakan masyarakat Maluku Barat Daya. Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan perhatian dan advokasi berkelanjutan, termasuk dari kalangan mahasiswa.
Tak hanya itu, Ia juga menyinggung kesiapan daerah dalam menyongsong pengembangan Blok Masela sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional. Ia menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia generasi muda harus menjadi prioritas utama, agar masyarakat lokal, khususnya anak-anak Maluku Barat Daya, tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Mahasiswa diharapkan mampu mempersiapkan diri dengan kapasitas dan kompetensi yang memadai untuk mengambil peran strategis di masa depan.
Di akhir pernyataannya, Noach menyoroti persoalan serius pencemaran lingkungan di Pulau Wetar yang sempat viral di media sosial. Ia menyayangkan belum adanya penyelesaian yang jelas dan konkret terhadap masalah tersebut. Menurutnya, isu lingkungan tidak boleh berhenti pada ruang viral semata, melainkan harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata demi keadilan dan perlindungan bagi lingkungan serta masyarakat setempat.
Ia pun berharap GEMA-MBD dapat terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan pihak terkait lainnya untuk mendorong penyelesaian persoalan pencemaran lingkungan tersebut secara berkelanjutan. “Mahasiswa harus terus bersuara dan mengawal isu-isu strategis seperti ini agar tidak tenggelam oleh waktu,” pungkasnya.
Pelantikan pengurus GEMA-MBD periode 2025–2027 ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan gerakan mahasiswa Maluku Barat Daya yang lebih progresif, kritis, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat serta masa depan daerah. (JM–AL).

