JURNALMALUKU – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ambon menggelar Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) Tahun 2026 di Hindu Center Ambon, Kamis (12/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan Anggota DPRD Provinsi Maluku, Yan Zamora Noach, sebagai pemateri dengan topik strategis tentang inovasi dan penguatan ekonomi kreatif pemuda.
Mengusung tema “Manifestasi GMNI sebagai Student Movement, Jemput Indonesia Emas 2045”, kegiatan tersebut menekankan pentingnya peran mahasiswa dan pemuda sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi.
Dalam pemaparannya, Yan Zamora Noach menegaskan bahwa inovasi bukanlah sesuatu yang lahir dari ruang kosong, melainkan hasil pengembangan dari sesuatu yang sudah ada.
“Inovasi adalah sesuatu yang sudah ada, lalu kita ubah konsepnya, kita tambahkan nilai, sehingga melahirkan manfaat baru yang lebih besar,” jelasnya.

Menurutnya, inovasi harus terencana, memiliki ciri khas, dan mampu meningkatkan nilai ekonomi suatu produk atau usaha. Ia mencontohkan produk sederhana seperti pisang yang dapat diolah menjadi keripik dengan berbagai varian rasa dan kemasan menarik sehingga memiliki daya saing lebih tinggi di pasaran.
“Ketika persaingan semakin ketat dan harga turun, kita harus berpikir kreatif. Ciptakan produk baru, rasa baru, kemasan baru. Dunia usaha itu dinamis,” ujarnya.
Yan menjelaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan sistem ekonomi yang bertumpu pada ide, gagasan, talenta, dan pengetahuan manusia untuk menciptakan nilai tambah. Kreativitas, inovasi, dan keberanian memulai menjadi kunci utama dalam membangun sektor ini.
Ia menyoroti potensi lokal Maluku seperti madu, rumput laut, hasil pertanian, dan perikanan yang dapat dikembangkan melalui sentuhan kreativitas. Madu, misalnya, dapat dipasarkan dengan diferensiasi rasa berdasarkan sumber bunga, sementara rumput laut bisa diolah menjadi minuman atau produk olahan bernilai jual tinggi.
“Yang menentukan itu ide dan keberanian untuk mulai,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Yan juga menekankan keunggulan pemuda yang memiliki energi, daya pikir cepat, keberanian mengambil risiko, serta jaringan yang luas. Ia mengingatkan agar kader tidak terjebak dalam zona nyaman dan menunda langkah.
“Masa muda adalah waktu menata masa depan. Bukan nanti, tetapi sekarang. Tentukan arah hidup dan mulai bergerak,” pesannya.
Ia menambahkan bahwa kegagalan dalam berwirausaha bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses pembelajaran menuju keberhasilan.
Berbagai peluang ekonomi kreatif yang dapat digarap pemuda turut dipaparkan, di antaranya pertanian modern (hidroponik, vertikultur, urban farming), budidaya perikanan, pengolahan pangan lokal, kuliner khas daerah, produk daur ulang, hingga sektor digital seperti startup, animasi, fotografi, videografi, dan musik digital.
Yan juga mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran produk.

“Gunakan media sosial untuk memperkenalkan karya dan usaha kita, bukan hanya untuk konsumsi pribadi,” ujarnya.
Dalam membangun usaha, ia menekankan pentingnya mental mandiri, konsistensi, kreativitas, serta kemampuan membangun jaringan (networking). Perencanaan bisnis yang matang dan kesiapan menghadapi risiko juga menjadi faktor penting.
Terkait permodalan, Yan menjelaskan bahwa terdapat berbagai alternatif pembiayaan, mulai dari modal pribadi, kerja sama, hingga akses kredit usaha mikro di perbankan. Pemerintah juga menyediakan berbagai program dukungan bagi pelaku ekonomi kreatif.
“Jangan jadikan modal sebagai alasan untuk tidak memulai. Yang terpenting adalah kemauan, perencanaan, dan keberanian melangkah,” tutupnya.
Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pengurus dan kader GMNI yang mengikuti proses kaderisasi. Melalui forum tersebut, GMNI Cabang Ambon menegaskan komitmennya dalam membangun kesadaran intelektual sekaligus mendorong kemandirian ekonomi pemuda menuju Indonesia Emas 2045. (JM–AL)

