JURNALMALUKU – Bodewin M. Wattimena menyoroti masih maraknya tawuran antar pelajar di Kota Ambon. Ia meminta pimpinan sekolah mengambil langkah nyata dan tegas untuk menghentikan fenomena tersebut.
Penegasan itu disampaikan saat Wali Kota memimpin upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 yang digelar, Senin (4/5/2026), di Balai Kota. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran OPD, kepala SD dan SMP, ASN lingkup Pemkot Ambon, serta undangan lainnya.
Dalam arahannya, Wali Kota menilai kekerasan yang melibatkan remaja usia 12–15 tahun telah mencederai cita-cita mewujudkan pendidikan Indonesia yang maju. Ia juga mengaku kerap menjadi sasaran kritik publik setiap kali terjadi insiden kekerasan antar pelajar.

“Bapak Ibu kepala sekolah dan guru, bagaimana kita mau mewujudkan pendidikan Indonesia maju kalau sekolah masih tawuran? Anak SMP usia 12–15 tahun sudah baku pukul, bagaimana masa depan mereka?” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Wali Kota menginstruksikan kepada seluruh pimpinan sekolah agar tidak ragu mengambil tindakan tegas terhadap siswa yang terus melakukan pelanggaran berat.
“Jika ada siswa yang tidak lagi bisa dididik dan terus melanggar aturan sekolah dengan melakukan kekerasan, sekolah dipersilakan mengembalikan siswa tersebut kepada orang tuanya,” ujarnya.
Selain itu, ia menetapkan tiga poin penting yang wajib dijalankan oleh seluruh kepala sekolah, yakni:
-Menggelar pertemuan khusus dengan orang tua murid
-Memberikan himbauan kepada siswa sebelum pelajaran dimulai
-Melaporkan bukti berupa video bahwa himbauan telah disampaikan oleh guru
Wali Kota juga mengungkapkan data bahwa sekitar 62 persen anak di Indonesia menjadi korban kekerasan verbal dan perundungan di lingkungan sekolah. Ia menegaskan pentingnya transformasi sekolah sebagai tempat pembentukan karakter, bukan arena kekerasan.
“Ini catatan terakhir dan keras bagi kita semua. Saya tidak bermaksud menyalahkan, tapi saya menuntut upaya nyata kita bersama. Yakinkan saya bahwa sekolah di Ambon bebas perundungan dan tawuran,” tandasnya. (JM–AL).

