JURNALMALUKU – Ketua DPC GMNI Kota Ambon, Sam A. Mesak, mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya pemuda untuk terus menjaga persatuan, memperkuat nilai-nilai Pancasila, serta mempertahankan tradisi pela-gandong sebagai fondasi perdamaian di Kota Ambon.
Hal tersebut disampaikan Sam A. Mesak saat memberikan keterangan kepada media ini pada Rabu (11/03/2026).
Ia menjelaskan bahwa Pancasila merupakan hasil perumusan panjang para pendiri bangsa. Gagasan dasar Pancasila pertama kali disampaikan pada 1 Juni 1945, kemudian dipertegas dalam Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, dan akhirnya disahkan secara resmi pada 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara Republik Indonesia.
“Pancasila lahir dari satu kesatuan gagasan besar bangsa Indonesia. Nilai-nilainya menegaskan bahwa kedamaian suatu negara dapat terwujud melalui keyakinan kepada Tuhan, kemanusiaan, nasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial,” ujarnya.
Sam menambahkan bahwa Indonesia sejak awal memang ditakdirkan sebagai bangsa yang beragam. Keberagaman suku, ras, etnis, dan golongan merupakan kodrat bangsa yang harus dijaga dalam semangat persaudaraan sebagaimana tertuang dalam nilai-nilai Pancasila.
Menurutnya, Kota Ambon yang pernah dikenal sebagai wilayah konflik berdarah pada masa lalu kini telah mampu bangkit dan hidup dalam perdamaian. Salah satu faktor penting yang memperkuat rekonsiliasi masyarakat adalah tradisi Pela Gandong, yang menjadi simbol persaudaraan dan pemersatu masyarakat lintas komunitas.
“Tradisi pela-gandong tidak hanya menjadi simbol perdamaian, tetapi juga mempererat hubungan antar masyarakat sehingga mereka dapat hidup berdampingan dalam kedamaian meskipun memiliki latar belakang yang berbeda,” jelasnya.
Ia menilai, dengan keberagaman suku, ras, dan agama yang ada, Kota Ambon dapat menjadi contoh nyata keberagaman Indonesia di kawasan timur Nusantara.
“Melihat komposisi masyarakatnya yang plural, Ambon seakan menjadi miniatur Indonesia di bagian timur. Keberagaman ini bukan menjadi sumber perpecahan, tetapi justru menjadi mozaik yang saling melengkapi,” katanya.
Meski demikian, Sam mengingatkan bahwa potensi konflik masih tetap ada. Ia menilai, belakangan ini masih terjadi sejumlah gesekan sosial yang kerap dipicu oleh persoalan-persoalan kecil.
Selain itu, ia juga menyoroti sejumlah persoalan yang tengah berkembang di Kota Ambon, mulai dari konflik bernuansa suku dan agama hingga meningkatnya kasus narkotika yang dinilai cukup mengkhawatirkan.
Dalam situasi tersebut, ia menekankan pentingnya peran pemuda sebagai agen perdamaian dan stabilitas sosial. Namun ia mengaku prihatin karena masih ada pemuda yang justru terlibat dalam konflik.
“Pemuda seharusnya menjadi kelompok yang menetralisir situasi, bukan malah menjadi bagian dari konflik itu sendiri. Karena itu diperlukan ruang-ruang dialog di setiap perguruan tinggi guna membangun kesadaran kolektif untuk memerangi berbagai persoalan sosial di Kota Ambon,” tegasnya.
Terkait isu dugaan korupsi dana Covid-19 yang belakangan diadvokasi oleh kelompok tertentu yang mengatasnamakan DPC GMNI Ambon, Sam menegaskan bahwa dirinya sebagai Ketua DPC GMNI Ambon belum menerima konfirmasi terkait aksi demonstrasi yang dilakukan oleh pihak tersebut.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa secara prinsip organisasi tetap mendukung proses penegakan hukum yang sedang berjalan.
“DPC GMNI Ambon mendukung dan mempercayakan sepenuhnya proses penegakan hukum kepada Polda Maluku,” ujarnya.
Ia juga mengimbau seluruh kader GMNI dan masyarakat untuk tetap menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Kota Ambon.
“Sebagai organisasi nasionalis, kami berharap kawan-kawan GMNI tetap menjaga kondusivitas Kota Ambon, apalagi saat ini saudara-saudara kita umat Muslim sedang menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Kita semua punya tanggung jawab menjaga kedamaian di Ambon Manise,” pungkasnya. (JM–AL).

