JURNALMALUKU – Darul Arqam Madya Nasional yang diselenggarakan oleh PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Bau-Bau menjadi momentum penting bagi penguatan ideologi dan intelektual kader IMM di seluruh Indonesia. Mengusung tema “Gerakan Intelektual Profetik IMM: Membangun Literasi Digital yang Berkeadaban di Era Society 5.0”, forum ini tidak hanya menjadi agenda kaderisasi formal, tetapi juga ruang refleksi kritis dalam membaca tantangan zaman.
Bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Ambon, Darul Arqam Madya merupakan bagian dari proses pendewasaan ideologis. Kegiatan ini membentuk kader yang tidak hanya matang secara struktural dan organisatoris, tetapi juga diasah untuk berpikir kritis, bernalar profetik, serta responsif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat di era Society 5.0.
Era Society 5.0 menghadirkan peluang sekaligus tantangan serius bagi generasi muda, khususnya mahasiswa. Di satu sisi, kemajuan teknologi digital membuka akses informasi tanpa batas. Namun di sisi lain, muncul berbagai persoalan seperti disinformasi, degradasi etika digital, polarisasi sosial, hingga krisis literasi.
Dalam konteks tersebut, gagasan intelektual profetik menjadi sangat relevan. IMM dipandang tidak cukup hanya melahirkan kader yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan moral, keberpihakan sosial, serta komitmen kebangsaan yang kuat.
Nilai-nilai profetik yang berakar dari ajaran Islam—humanisasi, liberasi, dan transendensi—ditegaskan sebagai fondasi utama dalam membangun literasi digital yang berkeadaban. Literasi digital tidak semata soal kemampuan teknis menggunakan teknologi, melainkan juga kesadaran etis dalam memproduksi dan menyebarkan informasi, serta keberanian menjadikan ruang digital sebagai sarana dakwah pencerahan dan advokasi sosial.
Pengalaman mengikuti Darul Arqam Madya Nasional dinilai memiliki makna strategis bagi kader IMM Kota Ambon dalam konteks pembangunan daerah. Sebagai kota multikultural dengan sejarah panjang toleransi dan persaudaraan, Ambon membutuhkan generasi muda yang mampu menjadi jembatan dialog, penjaga nilai kemanusiaan, serta agen perubahan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Semangat “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diterjemahkan dalam kerja-kerja nyata, termasuk melalui kontribusi intelektual dan penguatan literasi digital yang sehat dan inklusif.
Kader IMM memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat aktif dalam membangun ruang publik digital yang adil dan berkeadaban. Melalui penguatan kapasitas intelektual, penguasaan teknologi, serta internalisasi nilai-nilai profetik, kader IMM diharapkan mampu menghadirkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang kontekstual dan relevan dengan tantangan kekinian.
Darul Arqam Madya ditegaskan bukan sebagai akhir dari proses kaderisasi, melainkan titik awal untuk memperluas pengabdian. Nilai dan pengetahuan yang diperoleh harus dikontekstualisasikan dengan realitas lokal dan diwujudkan dalam gerakan nyata yang berpihak pada kepentingan umat, bangsa, dan negara.
Sebagai bagian dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, kontribusi kader—termasuk dari IMM Kota Ambon—merupakan bagian dari ikhtiar kolektif memajukan Ambon, Maluku, dan Indonesia. Dengan semangat intelektual profetik dan literasi digital yang berkeadaban, IMM diharapkan terus hadir sebagai gerakan mahasiswa yang kritis, solutif, dan relevan di tengah dinamika zaman. (JM–AL).
Penulis: Basyir Tuhepaly
Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Ambon

