Adat Kei Jadi Perekat, Benhur Watubun Dorong Pembangunan Berbasis Persaudaraan

JM02
JM02

JURNALMALUKU – Nilai-nilai adat dan budaya masyarakat Kepulauan Kei dinilai menjadi modal sosial yang kuat dalam menjaga toleransi antarumat beragama sekaligus mendorong pembangunan daerah. Semangat persaudaraan, gotong royong, dan saling menghormati yang telah diwariskan secara turun-temurun perlu terus dirawat sebagai fondasi kehidupan masyarakat Maluku yang damai dan bermartabat.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua Panitia Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) XXXVII Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM), Benhur George Watubun, dalam dialog interaktif di RRI Langgur, saat membahas Gereja dan Pembangunan Daerah, Membangun Sinergi untuk Masa Depan Maluku, berlangsung di Kabupaten Maluku Tenggara, Selas (20/10/2026).

Menurut Benhur, masyarakat Kepulauan Kei memiliki tradisi persaudaraan yang kuat, meskipun hidup dalam keberagaman latar belakang agama. Nilai-nilai adat telah menjadi perekat sosial yang memungkinkan masyarakat membangun kehidupan bersama dalam suasana harmonis.

Ia menegaskan, kegiatan keagamaan, termasuk persidangan organisasi gerejawi, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai agenda internal organisasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat solidaritas sosial, serta mempererat hubungan lintas agama.

Benhur mencontohkan praktik kebersamaan yang telah tumbuh di tengah masyarakat Kei, seperti keterlibatan umat Muslim dalam mendukung kegiatan gereja dan partisipasi umat Kristen dalam pembangunan masjid.
Bagi dia, praktik tersebut merupakan bukti bahwa semangat persaudaraan yang berakar pada adat dan budaya mampu melampaui sekat-sekat perbedaan agama.

“Agama ini baru saja lahir, tetapi adat sudah menyatukan kita lebih dahulu,” demikian inti pandangan Benhur mengenai kuatnya ikatan persaudaraan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kei.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menjaga adat sebagai kekuatan pemersatu di tengah keberagaman. Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, nilai-nilai lokal dinilai tetap relevan untuk membangun kehidupan masyarakat yang saling menghargai dan menjunjung tinggi kebersamaan.

Ketua DPRD Provinsi Maluku itu juga menyoroti pentingnya sinergi antara gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah.

Menurutnya, pembangunan tidak dapat hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah. Dibutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan dan lembaga keagamaan, agar program pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, Benhur berharap hasil-hasil persidangan MPP XXXVII AMGPM tidak berhenti sebagai keputusan organisasi semata. Hasil persidangan harus diterjemahkan ke dalam program kerja konkret yang mampu memperkuat kapasitas organisasi sekaligus memberikan kontribusi bagi pelayanan sosial dan kemasyarakatan.

Ia menilai, organisasi kepemudaan gereja memiliki ruang strategis untuk mengambil bagian dalam menjawab berbagai tantangan sosial, membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta memperkuat persatuan di tengah masyarakat.

Dengan demikian, keberadaan AMGPM diharapkan tidak hanya berdampak bagi pengembangan internal organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis.

Selain menekankan peran adat dan pentingnya kolaborasi, Benhur turut mengajak generasi muda Maluku untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, pembentukan karakter, serta keterlibatan dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab mempersiapkan diri sejak dini agar mampu menjawab tantangan zaman dan mengambil peran dalam kepemimpinan pada masa mendatang.

“Student today, leader tomorrow,”ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pemimpin masa depan harus dipersiapkan melalui proses belajar, kedisiplinan, integritas, dan kepedulian terhadap sesama. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki cita-cita, tetapi juga perlu membangun kapasitas dan menunjukkan kontribusi nyata bagi lingkungan sosialnya.

Benhur berharap nilai-nilai adat Kei, terutama semangat persaudaraan, gotong royong, dan saling menghormati, terus menjadi pedoman bagi generasi muda dalam menjaga kerukunan serta mendukung pembangunan Maluku.

Baginya, kekuatan budaya dan persatuan masyarakat merupakan modal penting untuk mendorong kemajuan daerah. Dengan merawat warisan adat sekaligus memperkuat kolaborasi lintas agama dan lintas sektor, Maluku diharapkan terus berkembang menjadi daerah yang maju, rukun, dan bermartabat.(JM-ES).

Sebarkan artikel ini
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan gunakan tombol share untuk membagi berita.