JURNALMALUKU – Dinamika sosial yang terjadi di wilayah Fiditan, Kota Tual, beberapa waktu lalu menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Pertikaian antar pemuda yang sempat menimbulkan keresahan tersebut dinilai sebagai peristiwa yang harus segera ditangani secara cepat, tepat, dan menyentuh akar persoalan agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Hal ini di sampaikan Oleh Adam R. Rahantan Koordinator Daerah Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEM Nusantara) Wilayah Maluku menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Kapolda Maluku beserta jajaran Kunjungan ke kota tual, dalam merespons situasi tersebut. Menurut BEM Nusantara Maluku, pendekatan persuasif yang dilakukan aparat keamanan serta upaya membangun dialog dan rekonsiliasi antar kelompok pemuda merupakan langkah strategis dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Insiden yang terjadi di wilayah Fiditan itu menjadi pengingat bahwa potensi konflik sosial dapat muncul kapan saja apabila tidak diantisipasi dengan komunikasi yang baik dan pembinaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, Rahantan menilai kehadiran aparat keamanan dalam meredam situasi patut diapresiasi, karena mampu mencegah eskalasi yang berpotensi mengganggu kehidupan sosial masyarakat secara lebih luas.

Rahantan Yang Juga Putra Kec, Tayando Tam Kota Tual ini Apresiasi turut disampaikan kepada Pemerintah Daerah dan pimpinan serta anggota DPRD Kota Tual yang aktif mengambil bagian dalam mendorong penyelesaian secara damai. Keterlibatan seluruh unsur pemangku kepentingan menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga persatuan dan keharmonisan masyarakat di Maluku, khususnya di Kota Tual.
Dalam pernyataannya, Rahantan menegaskan bahwa rekonsiliasi tidak boleh berhenti pada seremoni perdamaian semata. Lebih dari itu, proses tersebut harus mampu menyentuh akar permasalahan yang terjadi di tingkat bawah, baik yang berkaitan dengan miskomunikasi, kesalahpahaman antar kelompok, maupun persoalan sosial lainnya yang berpotensi menjadi pemicu konflik di masa mendatang. Jika tidak ditangani secara komprehensif, persoalan serupa dikhawatirkan dapat menjadi “bom waktu” yang sewaktu-waktu kembali meledak.
Mahasiswa sebagai agen kontrol sosial memandang penting adanya pembinaan berkelanjutan terhadap generasi muda. Pendekatan edukatif, dialog lintas komunitas, serta penguatan nilai-nilai persaudaraan dan toleransi perlu terus digalakkan agar ruang-ruang pergaulan pemuda tidak mudah terpengaruh oleh provokasi maupun isu-isu yang dapat memecah belah persatuan.
BEM Nusantara Maluku juga mengajak seluruh generasi muda di Kota Tual untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran bersama. Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Semangat hidup orang basudara yang menjadi kearifan lokal Maluku harus terus dijaga dan diperkuat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai representasi mahasiswa, BEM Nusantara Maluku menegaskan komitmennya untuk terus mendukung terciptanya situasi yang aman, damai, dan harmonis di Maluku. Mahasiswa siap menjadi mitra kritis sekaligus mitra kolaboratif bagi pemerintah dan aparat keamanan dalam mendorong penyelesaian berbagai persoalan sosial melalui pendekatan dialog, edukasi, dan penguatan nilai kebangsaan.
Dengan semangat persatuan dan kebersamaan, diharapkan situasi di Kota Tual semakin kondusif, serta generasi muda dapat menjadi pelopor perdamaian demi masa depan Maluku yang lebih stabil, maju, dan sejahtera Tutup Rahantan. (JM–AL).

