JURNALMALUKU – Ibu kandung dari salah satu anak yang terlibat dalam perjalanan menggunakan sampan dari Kisar menuju Wetar akhirnya membenarkan kronologi kejadian tersebut. Hal ini disampaikan langsung oleh Linda Dahoklory Ratumurun saat memberikan keterangan kepada media, Selasa (24/03/2026).
Linda Dahoklory Ratumurun, ibu dari Marshel Ratumurun, mengungkapkan bahwa dirinya dan keluarga awalnya tidak mengetahui keberadaan anak-anak tersebut. Informasi baru diperoleh setelah warga di Kampung Kahilin membagikan foto mereka.
“Dong datang dari Kisar, katong seng tau tiba-tiba. Orang kampung Kahilin kasih naik dong pung foto, baru katong tau. Lalu yang pigi ambil dong di Kahilin bawa datang di Kampung Masapun, dia pung bapa dengan Bu Pit Letelay,” ungkap Linda.

Ia juga menjelaskan bahwa keempat anak tersebut berangkat dari Kisar menggunakan sampan pada Kamis sekitar pukul 15.00 WIT dan baru tiba di wilayah Kahilin, Wetar, pada Sabtu pagi.
Sementara itu, Aleng Dahoklory, paman dari Marshel Ratumurun, turut membenarkan bahwa keempat anak tersebut memang berangkat dari Kisar dengan tujuan Wetar. Ia menjelaskan bahwa awalnya mereka pergi bersama untuk bermain dan mengambil kelapa untuk dijual, namun tidak kembali ke rumah hingga larut malam.
“Dong kan main sama-sama, ambil kelapa mau jual. Sampe malam seng pulang rumah. Katong cari dong, tapi dong lari ke Jawalang. Di sana dong sembunyi karena niat mau ke Wetar ikut motor laut, tapi disuruh turun karena masih sekolah,” jelas Aleng.
Menurutnya, keluarga sempat melakukan pencarian intensif di sejumlah lokasi seperti Oirata, Nomaha, Lebelau, hingga Sumpali dan kawasan sekitar lainnya sejak tengah malam hingga pagi hari. Namun keberadaan mereka belum juga ditemukan.
Aleng menambahkan, diduga keempat anak tersebut telah merencanakan keberangkatan mereka secara diam-diam.
“Karena su baku ajak, entah roh apa rasuki dong sampe ambil keputusan berangkat dengan sampan yang rusak itu,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa keempat anak tersebut meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan keluarga.
“Dong bajalang seng pulang-pulang, katong cari sampe cape. Padahal dengar kabar hari Minggu, 22 Maret 2026, dong su terdampar di Kahilin,” tutupnya.
Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat setempat, mengingat keberanian sekaligus risiko yang dihadapi anak-anak tersebut dalam perjalanan laut menggunakan sampan dari Kisar menuju Wetar. Pihak keluarga berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di kemudian hari. (JM–AL).


