JURNALMALUKU – Di zaman dahulu, ratusan tahun silam, orang-orang tua di negeri kepulauan sering berkisah tentang laut yang hidup—laut yang bukan sekadar air dan gelombang, tetapi juga tempat di mana makhluk-makhluk ciptaan Tuhan turut menjaga manusia. Mereka bercerita tentang ikan paus yang pernah menelan Nabi Yunus selama tiga hari tiga malam, lalu memuntahkannya kembali ke daratan. Mereka juga berkisah tentang ikan duyung yang menolong manusia yang tersesat di lautan.
Kisah-kisah itu diwariskan sebagai cerita rakyat—didengar, diyakini, namun sering dianggap hanya dongeng.
Namun pada bulan Maret tahun 2026, di Wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) Tapal Batas NKRI, tepatnya di Kabupaten Maluku Barat Daya yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, sebuah peristiwa nyata terjadi—menghidupkan kembali cerita-cerita lama yang hampir terlupakan.
Empat anak kecil dari Pulau Kisar:
–Fendi Dahoklory
–Marshel Ratumurun
–Elon Laimeheriwa
–Juan Dahoklory

melakukan perjalanan menuju Pulau Wetar dengan sebuah perahu kecil. Mereka berangkat pada Kamis sore, hanya dengan tiga buah dayung dan keberanian yang besar. Di wilayah perbatasan laut yang luas dan sunyi itu, kehidupan masyarakat sangat bergantung pada alam, namun alam tidak selalu bersahabat.
Selama dua hari dua malam, mereka terombang-ambing di tengah lautan. Angin kencang, ombak tinggi, dan cuaca buruk membuat mereka kehilangan arah di perairan tapal batas NKRI. Rasa lapar, haus, dan lelah mulai menguasai. Harapan perlahan memudar di tengah ganasnya laut wilayah 3T.
Dalam perjalanan itu, mereka mengalami hal-hal yang tak biasa. Seekor burung sempat hinggap di perahu mereka saat mereka kelaparan, namun mereka tidak berani menangkapnya. Seekor ikan paus juga terlihat mengikuti perjalanan mereka dari kejauhan—seakan menjadi penjaga di lautan sunyi itu.
Hingga akhirnya, saat tenaga mereka habis dan mereka tak lagi mampu mendayung, mereka hanya bisa pasrah. Dalam kepasrahan itu, salah satu dari mereka berseru dengan suara lemah:
“Tuhan, katong seng kuat lai… Tuhan, suruh motor laut datang ambil katong ka?”
Doa itu meluncur dari hati yang paling dalam—di tengah laut perbatasan yang luas dan sunyi.
Tak lama kemudian, keajaiban terjadi.
Sekelompok ikan lumba-lumba muncul dari dalam laut. Jumlahnya sekitar lima belas ekor. Bersama seekor ikan paus yang sebelumnya terlihat, mereka mendekati perahu kecil itu. Anak-anak itu ketakutan, namun mereka memilih diam.
Dan dalam diam itulah, pertolongan datang.
Lumba-lumba itu membentuk formasi: sebagian berada di bawah perahu, sebagian di sisi kiri dan kanan. Dengan kekuatan mereka, perahu kecil itu didorong perlahan, melintasi gelombang demi gelombang, menembus luasnya lautan di wilayah tapal batas NKRI.
Hari berganti, hingga akhirnya mereka tiba di daratan—Pantai Kelapa, Desa Kahilin.
Pada Sabtu, 21 Maret 2026, warga desa menemukan keempat anak itu dalam keadaan selamat. Kisah mereka segera menyebar dari wilayah 3T hingga ke berbagai penjuru negeri, menggetarkan hati banyak orang.
Apa yang dahulu hanya dianggap cerita rakyat—tentang paus, lumba-lumba, dan makhluk laut yang menolong manusia—kini menjadi kenyataan yang disaksikan oleh zaman, bahkan di wilayah paling terpencil negeri ini.
Kisah ini mengingatkan banyak orang bahwa mukjizat Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Ia dapat memakai apa saja—bahkan makhluk di lautan di wilayah terluar NKRI—untuk menolong manusia sesuai dengan kehendak-Nya.
Dan dari peristiwa ini, lahirlah kembali sebuah cerita rakyat baru—bukan lagi sekadar dongeng masa lalu, tetapi kisah nyata dari tapal batas negeri yang akan terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Pesan yang tersimpan:
Tetaplah berharap dan bersandar kepada Tuhan dalam setiap perjalanan hidup. Sebab pertolongan-Nya bisa datang dari arah yang tak pernah kita sangka—bahkan dari tengah laut di batas negeri. (JM–AL).


