JURNALMALUKU – Delapan belas tahun bukanlah perjalanan yang singkat bagi sebuah daerah kepulauan di beranda selatan Indonesia. Di balik gugusan pulau yang terbentang dari Wetar hingga Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya tumbuh melalui kerja keras, pengorbanan, dan mimpi besar untuk menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat di wilayah perbatasan.

Pada Selasa (21/7/2026), perjalanan itu kembali dikenang ketika MBD memperingati hari jadinya yang ke-18.Peringatan tahun ini diawali dengan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Maluku Barat Daya pada pukul 10.00 WIT, sebelum dilanjutkan Upacara Hari Ulang Tahun ke-18 di Lapangan Kantor Bupati pada pukul 15.00 WIT. Di tengah suasana yang sederhana namun penuh khidmat, Bupati Maluku Barat Daya, Benyamin Thomas Noach, berdiri sebagai Inspektur Upacara mengajak seluruh masyarakat menoleh sejenak ke belakang, melihat jejak perjalanan yang telah dilalui sejak kabupaten ini resmi berdiri pada 21 Juli 2008.

Kesederhanaan menjadi wajah peringatan tahun ini. Namun, bagi Bupati, kesederhanaan bukanlah ukuran dari makna sebuah perayaan. Justru di tengah kebijakan efisiensi dan keterbatasan fiskal, rasa syukur atas perjalanan delapan belas tahun menjadi nilai yang jauh lebih penting.

“Pada tahun ini, upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Maluku Barat Daya kita laksanakan secara sederhana, menyesuaikan dengan situasi efisiensi serta keterbatasan kebijakan fiskal yang kita hadapi. Namun, kesederhanaan tersebut tidak mengurangi esensi dari nikmat Tuhan yang telah dianugerahkan kepada kita melalui usia Kabupaten Maluku Barat Daya yang kini memasuki 18 tahun,” ujar Noach.

Delapan belas tahun terakhir, kata Noach, bukan hanya kisah tentang jalan yang dibangun, gedung yang didirikan, atau fasilitas yang bertambah. Lebih dari itu, MBD sedang membangun manusianya, membuka peluang usaha, serta menyiapkan fondasi ekonomi agar masyarakat di pulau-pulau terdepan dapat menikmati pembangunan secara lebih merata.

Meski demikian, ia mengakui perjalanan tersebut belum sepenuhnya mencapai tujuan. Tingkat kemiskinan yang masih berada di atas rata-rata nasional menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Namun, berbagai capaian yang berhasil diraih selama ini menunjukkan bahwa setiap tantangan mampu dihadapi ketika pemerintah dan masyarakat berjalan dalam langkah yang sama.

Momentum HUT ke-18 tahun ini terasa semakin bermakna karena hadir hanya beberapa hari setelah groundbreaking Proyek Gas Abadi Masela pada 16 Juli 2026. Proyek strategis nasional itu dipandang sebagai gerbang menuju babak baru pembangunan kawasan, termasuk bagi Kabupaten Maluku Barat Daya sebagai daerah penghasil sekaligus daerah terdampak.

Di hadapan peserta upacara, Noach mengingatkan bahwa peluang besar tersebut hanya akan menjadi cerita jika masyarakat tidak mempersiapkan diri. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya mulai menyiapkan generasi muda melalui program beasiswa ke AK-MIGAS Cepu agar kelak mampu mengisi berbagai kebutuhan tenaga kerja di industri migas.

“Kita tidak boleh menjadi penonton di daerah sendiri. Proyek Masela membutuhkan tenaga kerja mulai dari tingkat paling dasar hingga posisi manajerial. Saya berharap putra-putri Maluku Barat Daya menjadi pelaku utama dan pemain di daerahnya sendiri,” tegasnya.

Saat matahari mulai condong di ufuk barat dan upacara berakhir, peringatan HUT ke-18 itu meninggalkan sebuah pesan yang lebih dalam daripada sekadar seremoni tahunan. Delapan belas tahun telah mengajarkan bahwa membangun daerah perbatasan membutuhkan kesabaran, kebersamaan, dan keberanian menatap masa depan. Kini, dengan peluang besar yang mulai terbuka melalui Proyek Masela, Maluku Barat Daya kembali menulis babak baru sejarahnya—dengan harapan agar masyarakat Bumi Kalwedo tidak lagi hanya menyaksikan perubahan, tetapi menjadi pelaku utama di dalamnya. (JM-EA).
