JURNALMALUKU-Di tengah sunyinya malam, tepat pukul 22.00 WIT, jajaran pegawai Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Kalwedo berkumpul di Sumber Air dan Bak Reservoir Tiakur. Bukan untuk memperbaiki mesin atau memeriksa pipa, melainkan untuk berdoa dan berdiam diri dalam sebuah malam pergumulan.

Kegiatan ini digelar sebagai bentuk refleksi atas pelayanan penyediaan air bersih kepada masyarakat, khususnya setelah dalam sepekan terakhir tekanan air pada pipa distribusi di wilayah Wakarleli mengalami penurunan.

Direktur Perumdam Tirta Kalwedo, Adam A. Lewier, menjelaskan bahwa secara teknis berbagai upaya telah dilakukan. Seluruh peralatan dan fasilitas pendukung telah diperiksa dan diperbaiki, serta kendala yang ditemukan sudah ditangani.

“Secara teknis, sebagai manusia kami sudah mengupayakan apa yang bisa kami lakukan. Perbaikan sudah dilaksanakan dan sistem sudah dibenahi. Sisanya kami serahkan, biarlah Tuhan yang berperkara,” ujarnya dengan nada tenang.

Menurut Lewier, malam pergumulan ini bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan keseimbangan antara ikhtiar dan iman. Ia menegaskan bahwa pelayanan air bersih bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi panggilan untuk melayani sesama.

“Air adalah sumber kehidupan. Dalam iman kami sebagai orang Kristen, setiap tetes air yang mengalir adalah berkat Tuhan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab dan kasih,” tambahnya.

Malam doa tersebut dipimpin oleh Pdt. Samuel Erupley, S.Si.Teol, Ketua Majelis Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Wakarleli. Dalam renungan Firman Tuhan yang diambil dari Surat Paulus kepada Jemaat di Kolose 3:23 — “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” – ia mengingatkan bahwa setiap pekerjaan adalah bagian dari ibadah.

Dalam refleksinya, Pdt. Samuel menekankan bahwa, Pekerjaan adalah panggilan, bukan sekadar rutinitas, Integritas dalam hal kecil mencerminkan iman yang besar, Pelayanan publik adalah wujud kasih kepada sesama, Bekerja dengan hati untuk Tuhan menghadirkan ketulusan dan tanggung jawab.
Suasana malam yang hening di sekitar sumber air menjadi saksi doa-doa yang dipanjatkan bagi kelancaran distribusi air, keselamatan para petugas yang berjaga setiap hari di Werwaru, Kaiwatu, dan Tiakur, serta keberlanjutan sumber air bagi masyarakat.
Di balik pipa dan pompa yang bekerja tanpa suara, ada tangan-tangan yang berusaha, hati yang berharap, dan doa yang terus dipanjatkan — agar setiap tetes air tetap mengalir membawa kehidupan. (JM-EA).


