JURNALMALUKU – Perayaan Idul Fitri di Pulau Saparua bukan sekadar momentum keagamaan bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi cerminan nyata moderasi beragama yang hidup dan mengakar dalam kehidupan masyarakat. Di tengah dominasi masyarakat Kristen (Sarani) dan hanya beberapa negeri Muslim, harmoni justru tumbuh kuat tanpa sekat perbedaan.
Suasana Idul Fitri di Saparua selalu menghadirkan kehangatan yang khas. Negeri Siri Sori Islam dan Negeri Kulur yang merayakan hari kemenangan tidak pernah merasakan kesendirian. Sebaliknya, masyarakat dari negeri-negeri Kristen datang berkunjung, bersilaturahmi, dan turut merasakan sukacita bersama. Tradisi ini telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari warisan sosial yang terus dijaga lintas generasi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama di Saparua bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata melalui interaksi sosial yang harmonis dan penuh rasa saling menghormati.

Kehidupan masyarakat Saparua juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai adat tetap terjaga di tengah arus modernitas. Tradisi pela gandong menjadi fondasi penting dalam membangun relasi antar negeri, sekaligus menjadi perekat yang menghubungkan masyarakat lintas agama. Nilai persaudaraan yang terkandung di dalamnya mampu melampaui batas-batas perbedaan keyakinan.
Idul Fitri di Saparua, dengan demikian, menjadi simbol keberhasilan masyarakat dalam merawat keberagaman. Tidak ada ruang bagi eksklusivitas yang membatasi interaksi sosial. Yang tumbuh justru keterbukaan, kebersamaan, dan kesadaran bahwa kehidupan yang damai jauh lebih penting daripada mempertajam perbedaan.
Dalam konteks Indonesia sebagai negara majemuk, Saparua dapat menjadi contoh nyata bagaimana moderasi beragama tumbuh secara organik dari masyarakat. Nilai-nilai ini tidak lahir semata dari kebijakan, tetapi dari pengalaman hidup bersama yang terus dipelihara dan diwariskan.
Akhirnya, Idul Fitri di Pulau Saparua bukan hanya milik umat Muslim, tetapi menjadi perayaan bersama seluruh masyarakat. Ia merepresentasikan kehidupan yang damai, inklusif, serta berakar kuat pada nilai-nilai adat. Saparua mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirayakan dalam kebersamaan. (JM–AL).


