JURNALMALUKU – Pulau Kisar, sebuah negeri perbatasan di selatan Provinsi Maluku, selama ini dikenal dengan julukan Pulau Keramat. Julukan itu lahir dari sejarah panjang, kekayaan adat istiadat, serta nilai-nilai budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Yotowawa Rai Daisuli. Di balik hamparan batu-batu karang yang membentang kokoh dan pohon-pohon kelor yang tumbuh subur, tersimpan keramahan masyarakat yang menjadi identitas pulau tersebut.

Sabtu, 25 Juli 2026, Pulau Kisar menorehkan sejarahnya, untuk pertama kali di pulau perbatasan itu ada proses Kuliah Kerja Nyata (KKN), dengan hadirnya Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Pattimura Kabupaten Maluku Barat Daya, membawa 122 mahasiswa, diterjukan ke 12 desa dan desa persiapan yang tersebar di Kecamatan Kisar Utara dan Kecamatan Kisar Selatan.

Momentum bersejarah itu disambut hangat oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Kehadiran para mahasiswa dipandang bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga menjadi mitra pembangunan yang membawa semangat pemberdayaan UMKM desa dan peningkatan pemahaman hukum di kawasan perbatasan.

Camat Kisar Utara, Fernando R. Rupilu, mengatakan seluruh elemen masyarakat menyambut antusias kedatangan para mahasiswa. Menurutnya, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan sejak hari pertama menjadi bukti besarnya harapan masyarakat terhadap pelaksanaan KKN di Pulau Kisar.

“Selaku pimpinan wilayah, bahkan bersama seluruh masyarakat Pulau Kisar, kami menyambut dengan baik kehadiran adik-adik mahasiswa maupun mahasiswi yang melaksanakan KKN di Pulau Kisar. Antusiasme ini terlihat dari keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam menyambut kedatangan mereka,” ujar Fernando kepada media ini, Minggu (26/7/2026).

Ia menilai tema KKN yang mengangkat pengembangan UMKM desa dan peningkatan pemahaman hukum sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, potensi usaha pangan, peternakan kambing yang menjadi ciri khas Pulau Kisar, hingga tata kelola administrasi pemerintahan desa membutuhkan sentuhan inovasi dan pendampingan dari kalangan akademisi.
“UMKM di desa-desa kami masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan, termasuk sektor makanan dan potensi peternakan kambing yang menjadi ciri khas Pulau Kisar. Selain itu, administrasi pemerintahan desa juga membutuhkan sentuhan pemikiran yang inovatif. Karena itu kami sangat berharap adik-adik mahasiswa dapat memberikan pendampingan dan kontribusi nyata selama berada di sini,” katanya.
Fernando juga mengingatkan agar para mahasiswa tidak hanya mengabdikan ilmu pengetahuan, tetapi turut menghormati nilai-nilai Honoli, norma sosial, adat istiadat, dan budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Pulau Kisar sehingga proses pengabdian dapat berjalan harmonis.
Sementara itu, Koordinator PSDKU UNPATTI MBD, Andy Dahoklory, mengaku terkesan dengan sambutan yang diberikan pemerintah dan masyarakat sejak rombongan mahasiswa tiba di Pulau Kisar.
Baginya, julukan Pulau Keramat bukan hanya menggambarkan sejarah Kisar, tetapi juga keramahan warganya.
“Kami disambut begitu hangat oleh seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat Pulau Kisar. Sering orang bilang, Kisar itu Pulau Keramat. Di balik keramatnya itu, ada keramahan yang luar biasa dari pulau ini. Kami ingin seluruh proses KKN ini berjalan dengan baik, dan tentunya kami berharap semua pihak dapat berkolaborasi untuk menghasilkan dampak nyata dari KKN itu sendiri,” tandas Ririhena. (JM-EA).
