JURNALMALUKU – Sebuah kisah penuh keberanian dari wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di tapal batas NKRI menyita perhatian publik. Postingan yang beredar melalui akun Facebook pribadi Bung Anos Yermias, Selasa (24/03/2026), mengungkap perjalanan luar biasa empat anak yang nekat mengarungi laut menggunakan sampan dari Pulau Kisar menuju Wetar di tengah cuaca buruk.
Keempat anak tersebut diketahui bernama Fendi Dahoklory, Marshel Ratumurun, Elon Laimeheriwa, dan Juan Dahoklory. Dalam unggahan tersebut, Bung Anos Yermias bahkan melakukan video call dengan Juan Dahoklory untuk memastikan kondisi mereka setelah perjalanan berbahaya tersebut.

Aksi mereka dinilai sangat berani, mengingat kondisi laut yang tidak bersahabat. Dengan hanya menggunakan sebuah sampan—yang bahkan disebut dalam beberapa unggahan sebagai sampan bocor—mereka tetap mampu bertahan dan melanjutkan perjalanan layaknya pelaut berpengalaman.
Yang lebih mengejutkan, dalam perjalanan tersebut mereka dikabarkan “diantar” oleh sekitar 15 ekor lumba-lumba hingga mencapai wilayah Kahilin. Kisah ini pun menambah nuansa haru sekaligus kekaguman masyarakat terhadap pengalaman yang dianggap luar biasa dan penuh makna.
Dalam informasi lanjutan yang disampaikan kepada keluarga di Kisar, disebutkan bahwa keempat anak tersebut saat ini dalam kondisi selamat dan berada di Desa Masapun, Pulau Wetar.

Kisah ini dengan cepat menyebar luas di media sosial dan grup WhatsApp, disertai berbagai ungkapan syukur dan keyakinan iman dari masyarakat. Banyak yang menilai peristiwa ini sebagai bentuk perlindungan Tuhan, sebagaimana tertulis dalam beberapa caption yang ikut dibagikan: “Semua karena kebaikan Tuhan. Ia tidak pernah merancangkan kecelakaan, melainkan rancangan yang penuh damai sejahtera.”
Tagar seperti #hanyadenganmenggunakansebuahsampan, #sampanbocor, dan #tiadaygmustahilbagiAllah turut mewarnai penyebaran kisah ini di berbagai platform media sosial.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerasnya kehidupan di wilayah 3T sekaligus memperlihatkan ketangguhan dan keberanian anak-anak di daerah tapal batas negara. Meski demikian, berbagai pihak juga mengingatkan pentingnya keselamatan dan pengawasan agar kejadian serupa tidak membahayakan nyawa di masa mendatang.
Kisah ini kini menjadi inspirasi sekaligus refleksi bagi banyak orang tentang arti keberanian, iman, dan perjuangan hidup di wilayah perbatasan Indonesia. (JM–AL).


