JURNALMALUKU – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Maluku dari Fraksi PDI Perjuangan, Yan Zamora Noach, menyoroti beban kerja tambahan yang harus dijalankan para guru di SMA Siwalima Ambon. Selain melaksanakan tugas utama sebagai tenaga pendidik, para guru juga harus bergantian mengawasi dan mengelola kehidupan siswa di asrama hingga malam hari.
Hal tersebut disampaikan Yan Noach kepada wartawan media ini melalui aplikasi WhatsApp, Rabu (3/6/2026), usai Komisi IV DPRD Provinsi Maluku melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan di SMA Siwalima Ambon.
Menurut Noach, persoalan rangkap tugas guru menjadi salah satu temuan penting dalam kegiatan pengawasan tersebut. Ia menilai Pemerintah Provinsi Maluku perlu memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan asrama di SMA Siwalima dengan menyiapkan tenaga khusus yang bertanggung jawab mengelola kehidupan siswa di lingkungan asrama.
“Sampai saat ini belum tersedia tenaga pengelola asrama yang secara khusus menangani kehidupan siswa. Akibatnya, tanggung jawab tersebut masih dibebankan kepada para guru,” ujar Noach.
Ia menjelaskan bahwa sistem yang berjalan saat ini membuat para guru harus menjalankan tugas tambahan di luar fungsi utama mereka sebagai pendidik. Setelah mengajar di kelas, guru masih harus mengawasi berbagai aktivitas siswa di asrama hingga malam hari, sementara keesokan harinya mereka kembali menjalankan tugas mengajar seperti biasa.
Menurutnya, sekolah berasrama memiliki kebutuhan pengelolaan yang berbeda dibandingkan sekolah pada umumnya. Selain proses belajar mengajar, terdapat berbagai aktivitas siswa di luar jam pelajaran yang membutuhkan pengawasan dan pembinaan secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut, lanjut Noach, berpotensi menimbulkan kelelahan bagi para guru dan dapat memengaruhi efektivitas mereka dalam menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik.
Karena itu, politisi PDI Perjuangan tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Maluku untuk menyiapkan tenaga pengelola asrama yang memiliki tugas khusus menangani kehidupan siswa selama berada di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Dengan adanya tenaga pengelola asrama yang khusus menangani siswa, guru dapat lebih fokus menjalankan fungsi pendidikan di dalam kelas,” tegasnya.
Noach menambahkan bahwa keberadaan pengelola asrama bukan sekadar kebutuhan administratif, melainkan bagian penting dari sistem pendidikan berbasis asrama. Tenaga khusus tersebut diharapkan dapat membantu pembinaan karakter, kedisiplinan, serta pemenuhan kebutuhan sehari-hari siswa secara lebih optimal.
Selain menyoroti persoalan pengelolaan asrama, Noach juga mengapresiasi sejumlah perkembangan positif yang ditemukan selama pengawasan. Salah satunya adalah perbaikan pasokan air bersih yang sebelumnya menjadi keluhan utama siswa dan pihak sekolah.
“Untuk kebutuhan air bersih, kondisinya saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ini merupakan kemajuan yang patut diapresiasi,” katanya.
Meski demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan pemerintah, baik dari sisi sistem pengelolaan maupun penyediaan fasilitas pendukung bagi siswa.
Menurut Noach, keberhasilan SMA Siwalima sebagai salah satu sekolah unggulan di Maluku tidak hanya ditentukan oleh kualitas akademik, tetapi juga oleh kualitas pembinaan serta kenyamanan lingkungan tempat tinggal siswa selama menempuh pendidikan.
“Jika ingin menghasilkan lulusan yang berkualitas, seluruh aspek pendukung pendidikan harus diperhatikan, termasuk asrama. Jangan sampai guru dibebani terlalu banyak tugas hanya karena belum tersedia tenaga pengelola khusus,” pungkasnya. (JM–AL).

