JURNALMALUKU – Komisaris Utama (Komut) PLN Energi Gas, Saiful Chaniago, menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan infrastruktur gas di Maluku dan Maluku Utara sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Saiful saat diwawancarai awak media di Ambon, Sabtu (12/9/2026).
Sebagai putra asli Maluku yang memahami kondisi geografis serta karakteristik kepulauan Maluku, Saiful menilai pembangunan infrastruktur gas membutuhkan pola distribusi yang disesuaikan dengan kondisi wilayah kepulauan.
Menurutnya, PLN Energi Gas ke depan akan melakukan kunjungan dan pemetaan lebih lanjut di sejumlah wilayah Maluku dan Maluku Utara untuk melihat potensi pengembangan fasilitas serta infrastruktur gas yang dapat mendukung kebutuhan energi masyarakat.
“Kalau kita sudah merencanakan membangun instalasi gas di kabupaten/kota di Maluku, tentu pembangunan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing daerah,” kata Saiful.

Ia menjelaskan, pengembangan infrastruktur gas tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi, tetapi juga diharapkan memberikan dampak ekonomi yang besar melalui penciptaan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi baru di daerah.
Saiful memperkirakan pengembangan tersebut dapat menyerap sekitar 500 hingga 1.100 tenaga kerja, terutama tenaga kerja lokal di wilayah yang menjadi lokasi pembangunan dan pengembangan fasilitas gas.
“Kita akan memprioritaskan anak-anak daerah yang ada di situ. Jadi, manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan dari sisi energi, tetapi juga melalui penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Selain membuka lapangan pekerjaan, Saiful mengatakan pemanfaatan gas dapat memberikan pilihan energi yang lebih efisien dan terjangkau bagi masyarakat.
Menurutnya, ketersediaan gas dengan sistem distribusi yang baik diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh energi dengan harga yang lebih kompetitif, sekaligus mendukung kebutuhan listrik dan berbagai aktivitas ekonomi.
Saiful mengungkapkan, sejumlah infrastruktur dasar gas di Maluku dan Maluku Utara sebenarnya telah tersedia sejak beberapa tahun lalu. Infrastruktur tersebut antara lain berada di wilayah Buru, Tulehu, Kota Ambon hingga Ternate.
Namun, menurut dia, infrastruktur yang telah dibangun tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena sebelumnya masih menghadapi persoalan keterbatasan sumber pasokan gas.
“Kita sebenarnya sudah memiliki titik-titik infrastruktur dasar sejak 2004, seperti di Buru, Tulehu, Kota Ambon dan Ternate. Persoalannya selama ini sumber gasnya belum tersedia secara optimal,” jelasnya.
Dengan semakin tersedianya sumber gas, infrastruktur yang sudah ada tersebut akan menjadi salah satu basis untuk dikembangkan kembali agar cakupan pelayanan energi gas dapat diperluas ke lebih banyak kabupaten/kota di Maluku dan Maluku Utara.
“Sekarang sumber gasnya sudah ada. Karena itu, infrastruktur gas yang sudah tersedia akan kita kembangkan kembali untuk menjangkau lebih banyak kabupaten dan kota,” katanya.
Saiful mengakui, kondisi geografis Maluku sebagai daerah kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam membangun jaringan distribusi gas.
Jika pembangunan jaringan perpipaan tidak memungkinkan untuk menghubungkan antarpulau, distribusi gas dapat dilakukan menggunakan moda transportasi laut, termasuk kapal atau tongkang, sehingga pasokan energi tetap dapat menjangkau wilayah kepulauan.
“Karena Maluku merupakan wilayah kepulauan, pipanisasi antarpulau tidak semuanya bisa dilakukan. Untuk wilayah tertentu, distribusi dapat menggunakan kapal atau tongkang,” jelasnya.
Menurut Saiful, pola tersebut akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah sehingga pembangunan infrastruktur gas dapat berjalan efektif dan memberikan pelayanan energi yang berkelanjutan kepada masyarakat.
Ia menambahkan, manfaat pembangunan juga tidak berhenti pada penyediaan lapangan pekerjaan. Program sosial dan pemberdayaan masyarakat akan diarahkan agar masyarakat di sekitar wilayah operasional turut memperoleh manfaat ekonomi.
“Bukan hanya penyerapan tenaga kerja. Aspek sosial juga akan kita salurkan kepada masyarakat setempat sebagai bagian dari upaya mewujudkan energi yang mampu memberikan keadilan dan kemakmuran,” ujarnya.
Saiful menilai rencana pengembangan infrastruktur gas di Maluku memiliki momentum yang semakin kuat seiring dengan perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan sektor energi di Maluku.
Hal tersebut juga berkaitan dengan pengembangan Blok Masela yang menjadi salah satu proyek strategis sektor migas nasional di Maluku.
Menurutnya, keberadaan sumber gas dan pengembangan infrastruktur harus dapat memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi masyarakat Maluku, baik melalui penyediaan energi, penciptaan lapangan pekerjaan, maupun pertumbuhan aktivitas ekonomi lokal.
“Ini menjadi bagian dari upaya kita sebagai sektor energi untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan berkemakmuran,” tandas Saiful. (JM–AL).