JURNALMALUKU – Persoalan anak jalanan di Kota Ambon masih menjadi pekerjaan bersama.sejumlah anak yang sebelumnya sudah dibina untuk pulang dan berada dalam pengawasan keluarga, kembali terlihat menjalani aktivitas di sejumlah ruas jalan.
Di tengah kondisi itu, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menilai keberadaan anak di jalan tidak bisa diselesaikan hanya dengan langkah dari pemerintah. Peran orang tua dibutuhkan agar upaya yang telah dilakukan tidak berhenti setelah anak dipulangkan ke rumah.
Sebelumnya, petugas telah beberapa kali mendatangi anak-anak yang ditemukan berada di jalan.mereka diajak berbicara dan diberikan pemahaman agar meninggalkan aktivitas di jalan serta lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga.
Bahkan, anak-anak yang sempat menjadi perhatian di media sosial juga telah beberapa kali mendapat tindakan serupa. Setelah diarahkan, mereka dibawa dan diserahkan kepada orang tua masing-masing.
Dalam proses itu, orang tua telah membuat pernyataan untuk menjaga anak dan tidak membiarkan mereka kembali beraktivitas di jalan. Kesanggupan tersebut menjadi bagian dari upaya agar persoalan yang sama tidak terus terjadi.
Namun di lapangan,kondisi yang dihadapi ternyata berbeda.anak-anak itu kembali ditemukan berada di jalan meski sebelumnya telah diserahkan kepada keluarga.
Menanggapi hal tersebut, Wattimena mengatakan langkah terhadap anak-anak yang berada di jalan sudah dilakukan berulang kali.pemerintah tidak hanya mendatangi mereka, tetapi juga melibatkan keluarga dalam proses tersebut.
“Anak-anak jalanan ini kan kita sudah lakukan tindakan edukasi berkali-kali. Catat bahwa mereka yang kemarin viral di medsos itu, sudah kita lakukan tindakan berkali-kali,” kata Wattimena saat diwawancarai usai upacara HUT TNI ke 81 di Lapangan Merdeka Ambon,
Senin,(5/10/26).

Menurut dia, setelah mendapat pembinaan, anak-anak kemudian dibawa kembali kepada orang tua. Selanjutnya, keluarga diminta ikut bertanggung jawab dengan memberi perhatian, mendampingi, serta mengawasi anak selama berada di rumah.
Akan tetapi, ketika anak kembali berada di jalan, persoalan menjadi lebih luas. Wattimena menilai keluarga tidak dapat hanya menyerahkan persoalan tersebut kepada pemerintah, sebab pengawasan terhadap anak berlangsung setiap hari di lingkungan rumah.
“Sudah bawa ke orang tuanya, sudah bikin pernyataan. Mereka menyanggupi untuk tidak lagi membiarkan anak-anak kembali ke jalan. Tapi apa yang terjadi? Balik dan balik lagi,” ujarnya.
Karena itu, Wattimena meminta orang tua lebih memperhatikan aktivitas anak. Pengawasan tidak hanya dilakukan ketika muncul persoalan, tetapi juga melalui komunikasi dan pendampingan dalam keseharian.
Selain itu, keluarga perlu menciptakan suasana rumah yang membuat anak merasa diperhatikan.dengan begitu, anak memiliki tempat untuk bercerita, mendapatkan arahan dan tidak mencari aktivitas di luar rumah yang dapat membawanya kembali ke jalan.
Di sisi lain, pemerintah tetap akan melakukan langkah sesuai kewenangannya ketika menemukan anak-anak yang beraktivitas di jalan. Upaya tersebut akan lebih berarti apabila mendapat dukungan dari keluarga.
Bagi Wattimena, persoalan ini membutuhkan kesadaran bersama. Pemerintah bisa mendatangi, mengarahkan dan mengembalikan anak kepada keluarga, tetapi keberlanjutan setelah itu sangat bergantung pada kepedulian orang tua.
“Ini butuh kesadaran bersama. Keluarga yang paling penting. Kalau keluarga tidak peduli dengan anak-anak, ya apa yang bisa kita lakukan,” tegasnya.
Pada sisi lain, perhatian terhadap anak bukan hanya soal melarang mereka berada di jalan. Anak juga membutuhkan pendampingan, komunikasi dan lingkungan yang aman agar tumbuh dengan baik.
Dengan demikian, persoalan anak jalanan perlu dilihat sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran untuk melakukan langkah sesuai tugasnya, sementara keluarga menjadi lingkungan pertama yang menjaga dan mendampingi anak.
(JM–AL).