JURNALMALUKU – Pelaksanaan Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Maluku Barat Daya kembali mendapat sorotan. Kali ini, keterlambatan distribusi makanan di SMA Negeri 13 Maluku Barat Daya, Tiakur, memicu kekecewaan pihak sekolah karena makanan baru tiba setelah para siswa dipulangkan.
Insiden tersebut terjadi pada Senin (11/05/2026). Pihak sekolah menilai keterlambatan distribusi bukan lagi sekadar kendala teknis, melainkan persoalan yang telah beberapa kali terjadi dan perlu segera dievaluasi.
Salah satu guru SMAN 13 MBD, Alvaris Sairlouth, menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tiakur yang dinilai belum konsisten dalam mendistribusikan makanan tepat waktu.
“Kami cukup kecewa karena makanan datang saat siswa sudah pulang. Kejadian seperti ini bukan baru pertama kali terjadi,” ujarnya kepada media ini, Kamis (12/05/26).
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Tiakur, Aldy Watrimny, menjelaskan bahwa keterlambatan terjadi akibat kekurangan bahan baku yang berdampak pada proses pengolahan makanan.
“Distribusi hari Senin kemarin terlambat karena ada kekurangan bahan baku, sehingga proses pengolahan makanan ikut terlambat dan berdampak pada jadwal distribusi ke SMA,” jelas Aldy.
Ia juga mengatakan bahwa sebelum distribusi dilakukan, pihak SPPG telah berkoordinasi dengan sekolah dan mendapat informasi bahwa pihak sekolah masih bersedia menunggu kedatangan makanan.
Namun, saat tim distribusi tiba di sekolah, para siswa disebut sudah dipulangkan sehingga makanan akhirnya dikembalikan ke SPPG.
“Kami juga merasa kecewa karena setelah tiba di sekolah, siswa sudah dipulangkan. Makanan kemudian dikembalikan ke SPPG dan dibagikan kepada relawan di setiap divisi,” katanya.
Aldy menegaskan bahwa selama dirinya menjabat sebagai Kepala SPPG Tiakur, keterlambatan seperti ini baru pertama kali terjadi. Pernyataan tersebut berbeda dengan keterangan pihak sekolah yang menyebut masalah serupa pernah terjadi sebelumnya.
Menanggapi situasi ini, Kepala SMA Negeri 13 Maluku Barat Daya, J.H. Bebena, menegaskan bahwa sejak awal telah ada kesepakatan antara pihak sekolah dan penyelenggara MBG bahwa makanan tidak boleh didistribusikan melewati pukul 13.00 WIT.
Menurutnya, kesepakatan tersebut disesuaikan dengan penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya bagi siswa kelas 10 dan 11 yang paling lambat pulang pukul 14.00 WIT.
“Dari awal sudah ada kesepakatan bahwa makanan tidak boleh datang lewat jam satu siang. Anak-anak kelas 10 dan 11 paling lambat pulang jam dua siang,” ujar Bebena.
Ia mengaku sempat berulang kali menghubungi pihak MBG melalui telepon dan WhatsApp setelah mendapat laporan bahwa makanan belum juga tiba. Namun, upaya komunikasi tersebut disebut tidak mendapat respons.
“Saya mencoba menghubungi pihak MBG untuk meminta kepastian jam kedatangan makanan karena anak-anak sudah menunggu sekitar setengah jam, tetapi tidak ada respons,” katanya.
Menurut Bebena, pihak sekolah hanya meminta kepastian waktu agar dapat mengambil keputusan terkait kegiatan belajar siswa. Namun karena waktu sudah melewati pukul 14.00 WIT, para siswa akhirnya dipulangkan.
“Kami hanya meminta informasi yang jelas apabila distribusinya masih lama, karena sejak awal sudah disepakati anak-anak tidak boleh menunggu terlalu lama,” lanjutnya.
Ia juga menilai keterlambatan distribusi membuat tujuan utama program MBG menjadi kurang efektif karena makanan diterima siswa melewati jam makan siang yang seharusnya.
“Kalau anak-anak makan sudah lewat jam dua siang, itu sudah tidak baik. Jam makan siang seharusnya sekitar jam dua belas atau paling lambat jam satu siang,” tegasnya.
Bebena juga membantah pernyataan Kepala SPPG yang menyebut keterlambatan baru pertama kali terjadi.
“Kejadian keterlambatan ini juga bukan baru pertama kali terjadi. Alasan yang sering disampaikan adalah bahan baku habis. Mungkin bagi Ketua SPPG yang baru menjabat ini pertama kali terjadi, tetapi sebelumnya juga pernah terjadi,” ungkapnya.
Karena itu, pihak sekolah meminta adanya evaluasi bersama terhadap sistem distribusi MBG agar pelayanan ke depan dapat berjalan lebih baik.
Pihak sekolah juga menegaskan akan mengambil langkah tegas apabila distribusi makanan kembali melewati batas waktu yang telah disepakati.
“Saya sudah menyampaikan bahwa mulai besok, apabila makanan datang lewat pukul 14.45 WIT, maka makanan tidak akan dibagikan lagi kepada anak-anak karena sudah melewati waktu makan siang,” tandas Bebena.
Perbedaan keterangan antara pihak sekolah dan SPPG menunjukkan perlunya perbaikan koordinasi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Maluku Barat Daya, terutama untuk memastikan makanan diterima siswa tepat waktu. (JM-EA).
Polemik MBG di SMAN 13 MBD: Sekolah Kecewa, SPPG Beberkan Penyebab
Tinggalkan komentar

