JURNALMALUKU – Di tengah derasnya arus globalisasi yang kian menggerus identitas dan peran sosial generasi muda, Badan Pengurus Cabang (BPC) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Kabupaten Kepulauan Tanimbar justru memilih menyalakan kesadaran baru, perempuan Tanimbar tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus tampil sebagai penggerak utama pembangunan daerah.
Semangat itu mengemuka dalam diskusi publik bertema “Perempuan Bergerak, Tanimbar Berdampak di Era Globalisasi” yang digelar di Aula Kampus Universitas Lelemuku Saumlaki, Selasa (26/5/2026).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Ch. Ratuanak, M.K.M., yang juga tampil sebagai pemateri bersama Rektor Universitas Lelemuku Saumlaki, Ferly A. Sairmaly, SE., M.Si.
Wakil Bupati dalam sambutannya menegaskan, bahwa mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang memiliki daya kritis, semangat eksplorasi, dan keberanian untuk menciptakan perubahan di tengah masyarakat.

“Mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam melahirkan terobosan. Karena itu, jangan hanya puas di ruang kuliah. Organisasi adalah tempat membentuk karakter, kepemimpinan, dan keberanian menghadapi realitas sosial,” ujar Ratuanak.
Pemimpin perempuan pertama di Kabupaten ini menilai, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi menjadi bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial.
Menurutnya, banyak sarjana gagal berkembang di tengah masyarakat karena minim pengalaman organisasi dan rendahnya keterampilan sosial. Akibatnya, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak mampu diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi daerah.
“Jangan sampai pulang dengan gelar sarjana tetapi tidak punya daya saing dan kreativitas. Pengalaman organisasi itu penting untuk membentuk mental dan kemampuan hidup,” tegasnya.
Dalam momentum diskusi tersebut, Ratuanak juga memberikan apresiasi kepada GMKI Tanimbar karena dinilai menghadirkan ruang intelektual yang membahas isu strategis perempuan di tengah perubahan zaman. Bahkan turut mengingatkan generasi muda agar tidak tercerabut dari akar sejarah dan budaya di tengah derasnya pengaruh globalisasi.
Mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ia menegaskan pentingnya menjaga identitas sejarah sebagai fondasi membangun masa depan.
“Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Anak muda boleh bicara modernitas, tetapi jangan kehilangan akar budaya dan sejarahnya,” katanya.
Lebih jauh, ia mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan daerah. “Jadilah pelaku, bukan penonton,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Cabang GMKI Tanimbar, Urbanus Batkunde, SE., menegaskan bahwa perempuan Tanimbar memiliki kekuatan besar untuk membawa perubahan sosial di era globalisasi.
Menurutnya, sejak dahulu perempuan Tanimbar telah menjadi penjaga nilai budaya, penggerak ekonomi keluarga, hingga perekat kehidupan sosial masyarakat.
Kini, lanjut Urbanus, perempuan harus berani mengambil ruang lebih luas dengan memanfaatkan teknologi, membangun usaha, menyuarakan gagasan, dan memperkenalkan budaya Tanimbar ke tingkat yang lebih besar tanpa kehilangan identitas lokal.
“Globalisasi bukan ancaman jika kita menjadi subjek, bukan objek. Ketika satu perempuan maju, ia mengangkat keluarganya. Ketika komunitas perempuan berdaya, kampung ikut bergerak,” ujarnya.
Ia mengakui masih banyak tantangan yang dihadapi perempuan Tanimbar, mulai dari keterbatasan akses hingga pola pikir sosial. Namun menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa perempuan Tanimbar adalah sosok tangguh yang mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Mari bergerak dari hal kecil. Belajar hal baru, mendukung sesama perempuan, menjaga budaya, dan berani bermimpi besar. Ketika perempuan Tanimbar bergerak, maka Tanimbar akan berdampak,” katanya.
Menutup sambutannya, Urbanus menyampaikan pantun yang langsung disambut tepuk tangan peserta diskusi.
“Makan di warteg minumnya teh manis dingin, jangan lupa cemilannya sukun dan petatas. Perempuan Tanimbar harus seperti pohon beringin, mengakar kuat di bawah, berkembang pesat ke atas.”
Dirinya kemudian menegaskan slogan GMKI yang menjadi semangat kaderisasi organisasi tersebut, yakni “Tinggi iman, tinggi ilmu, tinggi pengabdian. Ut Omnes Unum Sint.”(JM.ES).

