JURNALMALUKU – Momen peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Maluku ke-81, Rabu (19/8/2026), turut diwarnai pemandangan menarik dengan tampilnya dua tokoh politik dari partai berbeda dalam suasana penuh keakraban.
Keduanya adalah Abdullah Vanath, tokoh politik Partai NasDem, dan Benhur George Watubun, tokoh politik PDI Perjuangan. Kebersamaan kedua figur tersebut terlihat seusai pelaksanaan Rapat Paripurna DPRD Provinsi Maluku yang turut dihadiri para bupati dan wali kota se-Maluku.
Momen tersebut kemudian menjadi perhatian publik. Pasalnya, Abdullah Vanath dan Benhur Watubun selama ini dikenal sebagai figur yang memiliki posisi penting dalam dinamika politik Maluku, meskipun berasal dari kendaraan politik yang berbeda.

Kebersamaan keduanya bahkan mulai dikaitkan dengan kemungkinan konfigurasi politik menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Maluku 2030. Namun, sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari kedua tokoh tersebut yang secara terbuka memastikan adanya pasangan atau koalisi untuk kontestasi tersebut.
Karena itu, kemunculan keduanya dalam satu momen dan menunjukkan hubungan yang harmonis lebih tepat dipandang sebagai sinyal politik yang menarik untuk dicermati, bukan sebagai kepastian mengenai pencalonan pada 2030.
Di tengah dinamika politik yang terus berkembang, komunikasi lintas partai menjadi bagian penting dalam membangun suasana demokrasi yang sehat. Perbedaan pilihan politik tidak serta-merta harus menjadi penghalang bagi para tokoh daerah untuk membangun komunikasi dan kebersamaan.
Bagi masyarakat Maluku, yang terpenting dari setiap dinamika politik adalah bagaimana para pemimpin dan tokoh daerah mampu menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.
Kebersamaan Abdullah Vanath dan Benhur Watubun pun dinilai dapat menjadi gambaran bahwa komunikasi politik dapat berlangsung secara dewasa, terbuka, dan tetap mengedepankan persatuan.
Terlebih, Maluku memiliki tantangan pembangunan yang membutuhkan kerja bersama, mulai dari konektivitas antarpulau, peningkatan ekonomi masyarakat, pendidikan, kesehatan, hingga pemerataan pembangunan di wilayah kepulauan.
Dengan masih tersedianya waktu menuju Pilkada 2030, publik tentunya akan mencermati perkembangan komunikasi dan langkah politik kedua tokoh tersebut.
Apakah kebersamaan yang terlihat pada momentum HUT Maluku ke-81 itu akan berkembang menjadi kerja sama politik, atau hanya sebatas hubungan baik antartokoh lintas partai, semuanya masih menjadi bagian dari dinamika politik yang akan berjalan ke depan.
Yang jelas, momen tersebut telah membuka ruang pembicaraan baru di tengah masyarakat mengenai kemungkinan lahirnya konfigurasi politik baru di Maluku.
Publik kini menunggu bagaimana Abdullah Vanath dan Benhur Watubun menerjemahkan kebersamaan tersebut dalam bentuk gagasan dan kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat Maluku. (JM–AL).
