JURNALMALUKU – Tim peneliti dari Politeknik Negeri Ambon (POLNAM) berhasil menyelesaikan penelitian bertajuk “Strategi Pemberdayaan Perempuan Masyarakat Pesisir dalam Pengolahan Hasil Laut dan Wirausaha Mikro (Studi Kasus pada Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah)” yang didanai melalui Program Penelitian Dosen Pemula (PDP) Tahun 2025.
Penelitian ini dipimpin oleh Agustina Christina Patty, SE., M.SA bersama anggota tim Dirk Berly Tehuayo, SE., M.Si dan Nius Lingni Iskandar, SE, serta melibatkan mahasiswa Jurusan Akuntansi POLNAM.
Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, yang meliputi tujuh negeri adat, yaitu Abubu, Akoon, Ameth, Leinitu, Nalahia, Sila, dan Titawaai. Seluruh wilayah tersebut merupakan kawasan pesisir yang berada di Kepulauan Lease dan memiliki karakteristik sosial-ekonomi yang sangat bergantung pada sumber daya laut.

Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa perempuan pesisir, khususnya kelompok “jibu-jibu” di Negeri Ameth, memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekonomi rumah tangga.
Selain menjual hasil tangkapan nelayan, para perempuan juga mengolah hasil laut menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Ketika kondisi cuaca buruk dan aktivitas melaut terganggu, mereka beralih menjual sayuran, rempah-rempah, sagu, dan kebutuhan pokok lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun demikian, aktivitas ekonomi tersebut masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan modal usaha, akses pasar yang terbatas, biaya transportasi yang tinggi, hingga ketergantungan terhadap pihak ketiga dalam proses distribusi dan pemasaran hasil usaha.
Berdasarkan hasil penelitian kualitatif yang dianalisis menggunakan metode Miles dan Huberman serta Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), tim peneliti menemukan beberapa fakta penting.

Pertama, sebagian besar perempuan pesisir tidak memiliki sumber produksi sendiri sehingga harus membeli bahan pangan maupun hasil laut dari nelayan atau pemasok lokal.
Kedua, produk yang diperjualbelikan umumnya berupa sayuran, sagu mentah, dan hasil laut yang kemudian diolah kembali untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi.
Ketiga, keterbatasan modal usaha menjadi hambatan utama dalam mengembangkan skala usaha yang lebih besar dan berkelanjutan.
Keempat, keuntungan usaha yang relatif kecil menyebabkan para perempuan harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan keberlangsungan ekonomi keluarga.
Kelima, masih terdapat ketergantungan terhadap perantara atau pihak ketiga dalam aktivitas perdagangan sehingga mengurangi potensi keuntungan yang dapat diperoleh secara langsung.
Penelitian ini menekankan pentingnya penerapan strategi pemberdayaan perempuan pesisir berbasis potensi lokal melalui pendekatan SWOT.
Strategi tersebut diarahkan untuk memaksimalkan kekuatan dan peluang yang dimiliki masyarakat pesisir, sekaligus mengurangi berbagai kelemahan dan ancaman yang dihadapi dalam pengembangan usaha mikro berbasis hasil laut.
Tim peneliti merekomendasikan peningkatan kapasitas perempuan melalui pelatihan pengolahan hasil laut, penguatan keterampilan kewirausahaan, akses terhadap permodalan, pengembangan jaringan pemasaran, serta pembentukan kelompok usaha bersama yang berkelanjutan.
Menurut tim peneliti, pemberdayaan perempuan pesisir tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan rumah tangga, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal dan pembangunan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Penelitian ini menjadi salah satu kajian penting karena mengangkat Kecamatan Nusalaut sebagai wilayah kepulauan yang selama ini masih minim penelitian terkait pemberdayaan perempuan. Selain itu, penelitian ini mengintegrasikan aspek pengolahan hasil laut dan pengembangan wirausaha mikro sebagai strategi pembangunan ekonomi masyarakat pesisir.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, pemerintah negeri, lembaga swadaya masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pemberdayaan perempuan yang lebih efektif, kontekstual, dan berkelanjutan, khususnya di wilayah pesisir dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Maluku.
Sebagai luaran utama, hasil penelitian ini akan dipublikasikan dalam jurnal nasional terakreditasi guna memperkaya khazanah ilmu pengetahuan terkait pemberdayaan perempuan dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir di Indonesia. (JM–AL).

