JURNALMALUKU – Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., menekankan pentingnya peran lulusan dokter dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di Maluku. Menurutnya, keberhasilan pendidikan dokter tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari kontribusi mereka dalam menjawab kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.
Hal tersebut disampaikan pada kegiatan Pengambilan Sumpah Dan Pelantikan Dokter Baru ke-40 Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Rabu, 04/11 bertempat di Gedung Plaza Presisi Polda Maluku.
Rektor menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan mencakup empat tahapan penting, yakni input, proses, output, dan outcome. Pengambilan sumpah dokter menjadi salah satu bukti keberhasilan dari proses pendidikan yang telah dilalui para lulusan.
Lanjut dikatakan bahwa sejak pendidikan dokter dibuka di Universitas Pattimura pada 2008, masyarakat Maluku telah memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan dokter di daerah sendiri tanpa harus pergi ke luar wilayah. Hingga saat ini, Unpatti telah menghasilkan sekitar 760 dokter, termasuk 38 dokter yang mengikuti pengambilan sumpah pada kesempatan tersebut.
Rektor juga mengingatkan bahwa keberhasilan para lulusan tidak terlepas dari pengorbanan orang tua dan keluarga. Pendidikan dokter membutuhkan dukungan yang besar, baik dari segi materi, waktu, tenaga, maupun perhatian. Karena itu, keberhasilan menyelesaikan pendidikan harus menjadi awal dari tanggung jawab untuk memberikan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Rektor menyoroti pentingnya perhatian terhadap keberlanjutan para lulusan setelah menyelesaikan pendidikan. Dengan jumlah dokter yang telah dihasilkan, perlu dipikirkan bagaimana mereka dapat ditempatkan dan diberdayakan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis di Maluku.
Menurutnya, capaian pendidikan dokter di Universitas Pattimura harus memberikan dampak nyata bagi daerah. Para lulusan diharapkan dapat mengambil peran dalam meningkatkan pelayanan kesehatan serta menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah yang masih membutuhkan tenaga dokter.
Pada kesempatan tersebut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura dr. Farah Christina Noya, M.HPEd., Ph.D mengatakan pengambilan sumpah dokter bukan sekadar perayaan atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan kedokteran, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar, yakni tanggung jawab profesi, kemanusiaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dekan menjelaskan bahwa Provinsi Maluku sebagai wilayah kepulauan masih menghadapi tantangan dalam pemerataan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terpencil dan wilayah perbatasan masih harus menempuh perjalanan panjang untuk memperoleh pelayanan medis.
Dalam konteks tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura sebagai satu-satunya fakultas kedokteran di Provinsi Maluku memiliki mandat moral dan historis untuk turut menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat kepulauan.
Menurutnya, Fakultas Kedokteran Unpatti tidak boleh hanya menjadi institusi yang menghasilkan lulusan dokter, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat. Hal ini merupakan esensi akuntabilitas sosial yang menjadi landasan pengembangan fakultas, dengan memastikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat berorientasi pada kebutuhan serta prioritas kesehatan masyarakat Maluku.
Pada kesempatan tersebut juga Pemerintah Provinsi Maluku yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Ir. Sadali Ie, M.Si., IPU Dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku terus mendorong penguatan sistem pelayanan kesehatan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan, pemberdayaan tenaga medis, peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan seluruh pemangku kepentingan.
Sekda juga mengingatkan para dokter baru agar menjalankan profesi dengan mengedepankan pengabdian dan kepedulian terhadap sesama. Setiap pasien harus memperoleh pelayanan kesehatan secara adil tanpa membedakan latar belakang ekonomi, sosial, suku, agama, maupun tempat tinggal.
Kepada para dokter baru, Gubernur menitipkan sejumlah pesan. Pertama, para dokter diminta mengutamakan pengabdian dan kemanusiaan serta tidak membedakan pasien berdasarkan latar belakang ekonomi, sosial, suku, agama, maupun tempat tinggal. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu dan bermartabat.
Menutup sambutannya Sekda mengaskan bahwa profesi dokter tidak hanya menuntut kemampuan dalam bidang medis, tetapi juga komitmen moral dan tanggung jawab sosial. Kehadiran dokter baru diharapkan dapat memperkuat pelayanan kesehatan dan memberikan manfaat bagi masyarakat di seluruh wilayah Maluku.
Sebanyak 38 dokter baru resmi diambil sumpah dan dilantik dalam acara tersebut. Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Wali Kota Ambon, para pimpinan di lingkungan Universitas Pattimura, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Maluku dan Ketua IDI Cabang Ambon, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku dan Kota Ambon, Direktur RSUD Dr. M. Haulussy Ambon, pimpinan rumah sakit jejaring, sivitas akademika dan tenaga kependidikan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura, serta tamu undangan lainnya. (JM–AL).
