Oleh: Pitjont Tomatala, S.Pi., M.Si.
JURNALMALUKU – Teripang pasir (Holothuria scabra) bukan sekadar komoditas laut bernilai tinggi. Di balik tubuhnya yang sederhana dan pergerakannya yang lambat, tersimpan potensi besar untuk menopang dua agenda global sekaligus: Blue Carbon (Karbon Biru) dan Blue Economy (Ekonomi Biru). Jika dikelola dengan pendekatan ilmiah dan kearifan lokal, teripang pasir dapat menjadi pilar kesejahteraan masyarakat pesisir Maluku sekaligus instrumen mitigasi perubahan iklim.
Sejak abad ke-18, teripang dari Kepulauan Maluku telah diperdagangkan ke Tiongkok. Catatan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang dijurnalkan oleh Manez dan Ferse (2010) menyebut wilayah Kepulauan Kei, Aru, Tanimbar, dan Maluku Barat Daya sebagai sentra produksi teripang Nusantara.
Kini, nilai ekonominya tetap tinggi. Di pasar nasional, harga teripang kering dapat mencapai Rp400.000 hingga Rp3.000.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas. Angka ini menunjukkan bahwa teripang pasir bukan hanya komoditas tradisional, tetapi aset ekonomi strategis.
Blue Carbon merujuk pada kemampuan ekosistem laut dan pesisir dalam menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO₂). Salah satu ekosistem paling efektif dalam fungsi ini adalah lamun. Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan bahwa lamun mampu menyerap karbon hingga 35 kali lebih cepat dibanding hutan hujan tropis.
Data terbaru dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia tahun 2025 melalui Peta Lamun Nusantara menunjukkan bahwa Maluku memiliki luasan lamun terluar terbesar di Indonesia, yakni 200.295,47 hektar dari total 660.156,35 hektar nasional. Ini bukan sekadar angka statistik—ini adalah modal ekologis dan ekonomi yang luar biasa.
Namun, tekanan aktivitas manusia dan degradasi lingkungan mengancam keberlanjutan lamun. Karena itu, restorasi dan konservasi menjadi keharusan, baik melalui kebijakan formal seperti Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) maupun melalui kearifan lokal Maluku: SASI Laut.
SASI merupakan sistem pengelolaan sumber daya berbasis adat yang mengatur periode buka-tutup pemanfaatan wilayah laut. Dalam konteks modern, SASI dapat menjadi fondasi konservasi lamun yang kuat.
Di atas kawasan lamun yang di-SASI, dapat diterapkan metode sea ranching teripang pasir—yakni pelepasan anakan hasil pembenihan ke alam, dibiarkan tumbuh secara alami, lalu dipanen secara selektif saat mencapai ukuran konsumsi.
Keunggulan model ini sangat jelas:
- Meningkatkan Kesehatan Ekosistem Lamun
Teripang pasir adalah pemakan deposit (detritivor) yang berperan membersihkan substrat dari bahan organik berlebih. Aktivitasnya menghaluskan sedimen, meningkatkan sirkulasi oksigen di dasar perairan, dan membantu pertumbuhan akar lamun. Dengan minimnya gangguan manusia akibat penerapan SASI, lamun akan tumbuh lebih subur dan populasinya meningkat.
- Menjamin Keberlanjutan Populasi Teripang
Anakan yang ditebar akan tumbuh dan bereproduksi. Teripang ukuran konsumsi dapat dipanen sebagai sumber pendapatan, sementara ukuran kecil dibiarkan berkembang biak. Skema ini menciptakan siklus produksi yang berkelanjutan dan mengurangi eksploitasi berlebihan.
- Menguatkan Identitas dan Wisata Budaya
SASI bukan hanya mekanisme ekologis, tetapi juga warisan budaya. Momentum buka-tutup SASI dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya, memperkuat identitas lokal sekaligus menambah nilai ekonomi non-ekstraktif.
Jika sea ranching teripang pada kawasan lamun yang dikonservasi (SASI) diterapkan secara masif di Maluku, maka Blue Carbon dan Blue Economy bukan lagi sekadar konsep, melainkan realitas.
Populasi lamun yang meningkat berarti kapasitas penyerapan karbon juga meningkat. Semakin luas dan sehat padang lamun, semakin besar peluang perdagangan kredit karbon di masa depan. Di sisi lain, populasi teripang yang melimpah membuka peluang industri pengolahan berbasis bahan baku lokal—baik untuk pangan, farmasi, maupun kosmetik.
Dengan luasan lamun mencapai lebih dari 200 ribu hektar, Maluku berpotensi menjadi habitat berton-ton teripang pasir. Ini dapat menjadi fondasi industri perikanan berkelanjutan berbasis ekologi.
Kabar baiknya, teknologi pembenihan teripang pasir telah diterapkan di Kota Tual dan mampu menghasilkan ribuan anakan per siklus. Teknologinya sederhana, adaptif, dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Maluku.
Artinya, kita tidak memulai dari nol. Modal ekologis tersedia, teknologi tersedia, kearifan lokal tersedia. Yang dibutuhkan adalah sinergi kebijakan, dukungan pendanaan, serta komitmen kolektif pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat adat.
Pengembangan teripang pasir bukan hanya tentang meningkatkan produksi. Ini adalah strategi integratif yang menghubungkan konservasi lamun, mitigasi perubahan iklim, pelestarian budaya, dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Maluku memiliki semua prasyarat untuk menjadi model nasional pengelolaan pesisir berbasis Blue Carbon dan Blue Economy. Melalui konservasi lamun berbasis SASI dan sea ranching teripang pasir, kita tidak hanya menjaga laut tetap produktif, tetapi juga memastikan generasi mendatang mewarisi ekosistem yang sehat dan masyarakat yang sejahtera.
Kini saatnya teripang pasir naik kelas—dari komoditas tradisional menjadi simbol transformasi ekonomi biru Indonesia. (JM–AL).

