Harapan Baru Warga Taniwel Timur, Pangdam Pattimura Dorong Pembangunan Jembatan Merah Putih

JM AL
JM AL

JURNALMALUKU – Kehadiran Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto, S.I.P., M.Han., bersama Danrem 151/Binaiya Brigjen TNI Raffles Manurung, S.I.P., dan Dandim 1513/SBB Letkol Arh Jaka Putra Dinda, D.H., M.Han., di kediaman Camat Taniwel Timur Thomas Andre Mawene, S.Sos., di Piru, menjadi momentum penting bagi masyarakat Taniwel Timur.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana silaturahmi tersebut berkembang menjadi ruang komunikasi untuk menyampaikan berbagai kebutuhan masyarakat, terutama persoalan konektivitas antarnegeri yang selama puluhan tahun belum memperoleh solusi permanen.

Salah satu persoalan yang disampaikan adalah keberadaan Sungai Wai Nawaya yang membentang di antara Negeri Lumahpelu dan Negeri Makububui.

Meski memiliki aliran yang relatif kecil, kondisi sungai pada waktu tertentu tetap menjadi hambatan bagi masyarakat yang hendak menyeberang. Persoalan tersebut menjadi semakin strategis karena akses itu berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat dan aktivitas pendidikan.

Di sekitar wilayah Makububui, Seakasale dan Sukaraja terdapat SMA Negeri 19 SBB dan SMP Negeri 1 Taniwel Timur yang setiap hari menjadi bagian dari aktivitas pelajar dan masyarakat.

Aspirasi tersebut disampaikan langsung oleh Camat Taniwel Timur Thomas Andre Mawene kepada Pangdam XV/Pattimura.

Respons Mayjen TNI Dody Triwinarto kemudian memberikan harapan baru bagi masyarakat. Pembangunan Jembatan Merah Putih direncanakan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan akses tersebut.

Program pembangunan ini disebut menjadi bagian dari agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto dan nantinya akan melibatkan TNI dalam pelaksanaannya.

Bagi masyarakat Taniwel Timur, pertemuan tersebut tidak sekadar berbicara mengenai rencana pembangunan sebuah jembatan.

Lebih dari itu, kehadiran pimpinan TNI di Maluku dalam ruang komunikasi bersama masyarakat menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang mampu mendengar langsung persoalan di lapangan.

Mayjen TNI Dody Triwinarto bersama Brigjen TNI Raffles Manurung dan Letkol Arh Jaka Putra Dinda memperlihatkan bahwa kehadiran TNI di daerah tidak hanya berkaitan dengan tugas pertahanan dan keamanan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya mendukung penyelesaian persoalan konektivitas serta kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan.

Dalam konteks Maluku, pembangunan infrastruktur penghubung memiliki nilai strategis. Jembatan bukan hanya menghubungkan dua sisi sungai, tetapi juga dapat membuka akses pendidikan, memperlancar mobilitas warga, mendukung aktivitas ekonomi serta memperkuat hubungan antarnegeri.

Peran Camat Taniwel Timur Thomas Andre Mawene juga menjadi bagian penting dalam momentum tersebut.

Sebagai pimpinan pemerintahan di tingkat kecamatan, Thomas tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi turut membawa persoalan yang dirasakan masyarakat untuk disampaikan langsung kepada pimpinan TNI di Maluku.

Aspirasi terkait Sungai Wai Nawaya menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan masyarakat di tingkat bawah dapat memperoleh perhatian ketika disampaikan melalui komunikasi dan koordinasi yang baik.

Kini, harapan masyarakat Taniwel Timur diarahkan pada proses pendataan dan kajian teknis sehingga rencana pembangunan dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Pendataan nantinya diharapkan mencakup berbagai aspek penting, antara lain titik lokasi dan koordinat jembatan, nama serta lebar sungai, jumlah jiwa dan kepala keluarga penerima manfaat, kondisi arus dan kedalaman sungai, muka air normal maupun saat banjir, kondisi tanah untuk pondasi, status lahan, kebutuhan desain teknis hingga akses mobilisasi material.

Kajian yang dilakukan secara menyeluruh diharapkan dapat memastikan pembangunan Jembatan Merah Putih benar-benar sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, pembangunan jembatan nantinya tidak hanya menjadi proyek infrastruktur, tetapi mampu memberikan manfaat langsung bagi warga Taniwel Timur, khususnya dalam menunjang pendidikan, mobilitas, aktivitas ekonomi dan hubungan antarnegeri.

Dari sebuah aspirasi yang disampaikan di Taniwel Timur, kini lahir harapan besar masyarakat terhadap hadirnya solusi permanen.

Sebab, membangun jembatan bukan sekadar menghubungkan dua sisi sungai. Lebih dari itu, pembangunan jembatan berarti membuka akses, memperpendek jarak, memperkuat konektivitas dan menghadirkan negara lebih dekat dengan rakyat. (JM–AL).

Sebarkan artikel ini
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan gunakan tombol share untuk membagi berita.